Kendalikan Hama, Subak Piling Gelar Nangluk Merana, Tapakan Ngider Buana

0
2263
Tradisi ngider buana dalam rangkaian upacara nangluk merana di subak Piling , Desa Mengesta

TABANAN –  Hama yang menyerang tanaman padi seperti tikus, wereng serta hama lainnya yang sering merusak tanaman padi. Secara skala , petani sudah melakukan upaya pengendalian. Namun sebagai orang Bali yang memiliki budaya adiluhung, pengendalian hama tanaman juga dilakukan secara niskala sebagai wujud bakti kepada Ida Sanghyang Widhi (Tuhan). Kalau di Desa Adat Bedha dilakukan upacara Mreteka merana (Ngaben Tikus), berbeda yang dilakukan krama Subak Piling, Desa Mengesta, Penebel, Tabanan.
 
Krama Subak Piling menggelar upacara nangluk merana dengan melaksanakan upacara ngider buana (Keliling wilayah), Selasa 11 Mei 2021. Dalam prosesi ngider buana ini, tapakan sakral desa adat Piling berupa barong dan rangda diusung keliling seluruh subak di Piling sepanjang 12 kilometer lebih. Prosesi ngider buana ini juga menerapkan protokol kesehatan yang ketat dengan melibatkan krama subak seminimal mungkin.
 
Pekaseh Subak Piling I Ketut Rustana  ketika dikonfirmasi mengungkapkan, tradisi ngider buana atau ngelawang dalam kaitan upacara nangluk merana di subak Piling sudah dilakukan sejak dulu secara turun temurun. Upacara ngider buana ini dilakukan setiap tiga tahun sekali terutama ketika hama menyerang tanaman padi.

BACA JUGA:   Sidak Gabungan Hanya Temukan Dua Pelanggar Protokol Kesehatan

“Ini memang tradisi leluhur sejak dulu, dilakukan upacara nangluk merana  ngider buana di seluruh subak  dalam upaya mengendalikan hama tanaman khususnya padi yang digelar setiap tiga tahun,” jelasnya.
 
Dijelaskan, prosesi ngider buana ini juga terkait adanya pewuwus (pawisik) ida betara saat piodalan di Pura Ulun suwi  beberapa waktu lalu. Dalam  pewuwus tersebut subak diharapkan melakukan upacara ngider buana dengan terlebih dulu mendak ida betara luhur Pucak kedaton (Gunung Batukau) untuk diiring bersama-sama tapakan ngider buana di seluruh arela persawahan Subak Piling.
 
Prosesi diawali nedungan tapakan di Pura Puseh/ Bale Agung Adat Piling kemudian menuju Pura Ulun Suwi di ujung utara Desa Piling untuk sembahyang bersama. Selanjutnya dilaksanakan upacara ngider buana menyusuri seluruh persawahan yang ada di subak  Piling. Dalam prosesi ini, ida betara dan tapakan sempat singgah atau mesandekan di Pura Dalem, Pura Ulun Suwi dan Pura Bedugul kemudian tapakan kembali ke Pura Puseh/Desa Adat Piling sekitar pukul 15.00 WITA.

BACA JUGA:   BPOM Denpasar Sidak Takjil di Tabanan

“Karena jarak sangat panjang, juru sunggi tapakan dilakukan bergantian secara estafet sehingga tidak banyak warga berkerumun,” tandasnya.
 
Diharapkan, dengan adanya upacara nangluk merana dengan prosesi ngider buana tapakan, hama tanaman terutama hama tikus dan lainnya bisa meraradan (bisa dikendalikan) atau berkurang.

BACA JUGA:   Hasil Swab Tes, 53 Negatif, 7 Masih Menunggu

“Mudah-mudahan hama tanaman bisa berkurang sehingga petani  mendapatkan hasil yang lebih baik,” pungkasnya. (jon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here