
KUTA – Intibios Laboratorium Klinik (Intibios Lab) kembali melebarkan sayapnya. Kali ini yang disasar adalah pulau dewata, dengan lokasi pendirian di pelataran pusat perbelanjaan Benoa Square, Kedonganan. Peluncuran terhadap laboratorium pengujian Covid-19 itu dilaksanakan, Rabu 5 Mei 2021 lalu. Turut hadir mantan Menteri Perdagangan Republik Indonesia periode 2016-2019 Enggartiasto Lukita, yang notabene merupakan pendiri dari Intibios Lab itu sendiri.
“Pertumbuhan ekonomi tidak mungkin terjadi apabila masalah kesehatan tidak teratasi. Jangan bebankan hanya ke pemerintah. Karena swasta juga bisa terlibat di dalamnya. Itulah awal kehadiran kami yakni sekelompok pengusaha dan dokter di Jakarta, melahirkan Intibios,” sebut Enggartiasto Lukita.
Pastisipasi memutus mata rantai penularan Covid-19, tegas dia, tidaklah mungkin dikonsentrasikan hanya di Jakarta. Karena itulah pihaknya melakukan ekspansi mendekat ke masyarakat.
“Kenapa Bali jadi keharusan? Karena Bali adalah tujuan wisata utama di Indonesia yang saat ini kondisi ekonominya sangat terpengaruh. Jadi kami berusaha hadir untuk membantu Bali, yakni melalui layanan pemeriksaan kesehatan terhadap wisatawan yang datang dan keluar,” sebutnya.
Intibios Lab, sambung dia, kini telah hadir di 10 kota dengan 15 laboratorium. Bahkan Intibios Lab telah mengantongi tiga ISO, yakni ISO 14001, 9001, dan 45001.
“Kami mau tunjukkan bahwa lab kami benar-benar akurat, cepat, dan terpercaya,” tegasnya menuturkan Intibios Lab yang katanya hadir bukan semata-mata sebagai usaha. Melainkan sekaligus berkaitan dengan tanggung jawab kemanusiaan.
“Di tahun ini target kita tidak boleh kurang dari 25 lab. Kami hadir mendekat ke masyarakat agar masyarakat lebih terjamin kesehatannya. Tentunya dengan memperhatikan keterjangkauan, agar ekonomi masyarakat kita bisa tumbuh. Ini adalah tanggung jawab kita sebagai anak bangsa. Dan mari kita bersama-sama gugah rasa tanggung jawab dari seluruh masyarakat, agar tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan,” ucapnya.
Terpisah seperti disampaikan Dr dr Nanny Djaya selaku Direktur Medis, Intibios Lab fokus memberikan layanan Polymerase Chain Reaction (PCR) swab test, antigen swab test, rapid test, dan tes serologi di tengah situasi pandemi Covid-19. Hadirnya Intibios Lab di pulau dewata sendiri, sekaligus guna menyambut rencana dibukanya pariwisata internasional.
Tidak dipungkiri dia, wisatawan asing menjadi sasaran dalam layanan yang diklaim memiliki tarif terjangkau itu. Kaitan dengan itu, berbagai upaya pun katanya telah dilakukan. Seperti kerjasama dengan Trinity Medika selaku klinik yang kabarnya ditunjuk oleh Visa Facilitation Services (VFS).
“Kami juga bekerjasama dengan Accredify. Itu seperti paspor kesehatan untuk Singapura. Jadi kalau mau berangkat ke Singapura, itu biasanya harus melalui pemeriksaan PCR yang disetujui atau kerjasama dengan Accredify,” sambungnya menuturkan Intibios Lab yang kabarnya merupakan salah satu dari 34 laboratorium yang masuk dalam kategori Travel Corridor Arrangement (TCA).
Tidak dipungkirinya pula, hadirnya Intibios Lab di Bali awalnya berencana menyasar momentum dibukanya penerbangan Singapore Airlines. Namun sayang, rencana tersebut batal.
“Mudah-mudahan bulan Juni-Juli penerbangan internasional benar-benar sudah operasional. Sehingga kami bisa membantu para wisatawan ketika hendak berangkat kembali,” sebutnya terkait Intibios Lab yang dipastikan menggunakan sumber daya manusia berkualitas dan peralatan berstandar Biosafety Level (BSL) 2.
Hal senada disampaikan Komisaris Intibios Lab Bali Andrew Suteja. Dia berharap, hadirnya Intibios Lab di Bali dapat memberikan dampak positif bagi pariwisata dunia pariwisata.
“Bali sebenarnya sudah dalam pertimbangan lama. Tapi tentu kita harus sesuaikan dengan kebijakan pemerintah yang maju-mundur soal buka-tutup Bali,” singkatnya didampingi salah seorang partner Intibios Lab yakni Kosta Ristoti, menuturkan Intibios Lab di Bali yang merupakan laboratorium ke-15 di Indonesia. (adi/*)








