
TABANAN – Sebuah bade tumpang pitu berdiri di atas mobil di samping Pura Puseh Desa adat Bedha. Sementara proses ngeringkes tikus dilakukan di jaba tengah Pura Puseh sebagai rangkaian upacara mreteka merana atau ngaben tikus yang dilaksanakan enam subak di wilayah Desa Adat Bedha. Selanjutnya setelah diringkes, bangkai tikus dimasukan ke bade tumpang pitu menuju pantai Yeh Gangga, Sudimara untuk prosesi pengabenan tikus, Senin 5.
Proses perjalanan bade dari Pura Puseh Desa adat bedha sampai ke Pantai Yeh Gangga diikuti warga. Bahkan Ida Cokorda Anglurah Tabanan ikut naik ke bade atau memanjang sepanjang perjalanan sampai ke Pantai yeh Gangga yang membutuhkan waktu cukup lama. Pasalnya ukuran bade tumpang pitu tersebut cukup tinggi sehingga beberapa kali berhenti untuk menghindari kabel listrik yang melintang di jalan sepanjang perjalanan. Sesampai di pantai yeh Gangga. Seluruh bangkai tikus dimasukan ke selepa atau peti mati berbentuk macan bersayap selanjutnya dilakukan pembakaran. Usai pembakaran abunya langsung dilarung ke laut. Begitulah prosesi ngaben tikus yang kembali digelara di Desa adat Bedha sebagai upaya untuk mengendalikan merana atau hama tanaman padi utamanya hama tikus.
Bendesa Adat Bedha I Nyoman Surata mengatakan, Upacara Mreteka Merana atau lebih sering disebut ‘ngaben bikul’ merupakan dresta di subak desa adat Bedha yang dilaksanakan secara turun temurun dan barangkali hanya ada di desa adat setempat. Dikatakan, prosesi ini merupakan warisan budaya leluhur yang patut dilestarikan sebagai icon desa Adat Bedha.
“Upacara ini bukanlah upacara Pitra Yadnya tetapi upacara Bhuta Yadnya, prosesinya seperti upacara Pitra Yadnya yaitu ngaben sampai nganyud saja, tidak dilanjutkan dengan upacara ngerorasin atau memukur apalagi upacara ngelingihan di kemulan,” katanya.
Dijelaskan, mreteka merana terdiri dari dua kata yaitu kata Mreteka dan kata Merana. Mreteka artinya mengupacarai, Merana artinya hama penyakit. Tujuan dari upacara ini untuk menyucikan roh/atma hama penyakit supaya kembali ke asalnya sehingga tidak kembali menjelma ke bumi sebagai hama penyakit dan merusak segala jenis tanaman yang ada di bumi, khususnya tanaman padi. “Mretekan merana ini upacara pembersihan dan mengembalikan atman ‘bikul’ supaya kembali ke asalnya yaitu mantuk ke Sangkan Paraning Dumadi (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) dengan harapan tidak merusak tanaman padi lagi,” jelasnya.
Rangkaian upacara Mreteka Merana diawali dengan upacara pecaruan, dimana dalam prosesi ini masing-masing subak diberikan tirta dan nasi warna (nasi tawur) yang ditebar ke sawah-sawah, dan dilanjutkan dengan pengeringkesan untuk nantinya di larung di pantai Yeh Gangga. “Karena ini bhuta yadnya seolah-olah seperti ngaben karena tikus disebut jero ketut, jero ibarat manusia kastanya tinggi jadi tidak boleh ngawagin. Dan prosesi ngabennya di segara lanjut dilarung selesai,”ucapnya.
Ditanya soal dasar atau lontar yang menjadi acuan menggelar prosesi ngaben tikus ini Nyoman Surata mengakui, tidak ada secara khusus yang menyebutkan ngaben tikus ini. Namun ada primbon yang dipegang sulinggih, seri purana, dharma pemaculan.
“Tidak ada di sastra (lontar) khusus, tapi ada primbon, seri purana dan dharma pemaculan, ketika hama atau merana merajalela, maka kegiatan mreteka merana ini digelar,” jelasnya.
Ditambahkan tradisi mreteka merana atau ngaben tikus ini mulai dilakukan sejak tahun 1965 ketika merena atau hama tikus dan hama lainnya menyerang tanaman milik warga khususnya tanaman padi, sehingga dilakukan upacara ini.
“Mreteka merana upaya mengendalikan hama tikus secara niskala, secara skala dilakukan dengan cara pengeropyokan,” imbuhnya. (jon)








