DPRD Bali Larang Bibit Babi Luar Masuk Bali

0
172
Ketua Komisi II DPRD Bali menerima Perkumpulan Peternak Hewan Monogastrik Indonesia (PHMI) Bali

DENPASAR – Komisi II DPRD Bali melarang masuknya bibit babi ke Bali yang secara sengaja didatangkan dari luar Bali. Hal itu akan sangat beresiko terlebih lagi dan dikhawatirkan bibit babi yang didatangkan dari luar Bali rentan dengan virus. Apalagi, Bali belum lama ini sempat di serang virus ASF hingga membuat perternak babi di Bali banyak merugi dan ternak babi peternak di Bali banyak mati gara-gara virus ASF.

Penegasan penolakan masuknya bibit ternak babi ke Bali disampaikan Ketua Komisi II DPRD Bali IKG. Kresna Budi seusai menerima anggota perkumpulan Peternak Hewan Monogastrik Indonesia (PHMI) Bali di DPRD Bali, Selasa 9 Februari 2021. Menurutnya jangankan bibit ternak babi dari luar Bali, penyebaran bibit yang didatangkan antar kecamatan di masing-masing kabupaten kota di Bali dilakukan pengawasan ekstra ketat. Sebab, peternak masih trauma dengan virua ASF yang mematikan usaha peternak babi di Bali.

Politisi Golkar asal Buleleng ini mengatakan, selain menolak masuknya bibit ternak babi dari luar ke Bali, DPRD Bali juga sepakat dengan PHMI Bali menolak masuknya daging ‘sampah’ ke Bali. Sebab, daging yang dikirim dari luar Bali belum bisa dijamin apakah sehat, bebas dari virus atau tidak. Hal itu belum diketahui dan jangan sampai ada kejadian terulang beberapa waktu lalu lantaran si pengirim daging mengalami kecelakaan di jalan dan diketahui ada daging yang dikirim tidak beres alias tidak sehat.

Kresna Budi mengatakan, saat ini diakui harga daging babi di pasar cukup mahal dan itu wajar dalam hukum dagang. Menurutnya ketika kebutuhan akan daging babi yang tinggi, persediaan sedikit dan itu wajar menjadikan harga daging mahal.

“Permintaan tinggi, persediaan terbatas harga menjadi mahal itu wajar, biarkanlah peternak babi kita di Bali sekali-sekali menikmati untung,” pintanya.

Sekretaris PHMI Bali Putu Ria Wijayanti mengatakan, niat baik pemerintah untuk membagikan bibit gratis kepada peternak masih dipertimbangkan Anggota PHMI Bali. Sebab, bibit yang diharapkan adalah benar-benar dapat menjamin kesehatan bibit tersebut dan jangan sampai terjangkit oleh virus. Menurutnya ditengah keterpurukan ekonomi Bali saat ini yang mengandalkan sektor pariwisata, keberadaan peternak babi di Bali mampu bertahan dan ingin menjadi pondasi ekonomi Bali ditengah keterpurukan sektor pariwisata dan tidak bergairah lagi akibat Covid-19.

Ria Wijayanti menambahkan, sangat dikhawatirkan peternak babi di Bali yakni, masuknya daging babi dari luar Bali tanpa ada uji lab. Masuknya daging babi dari luar ke Bali tanpa dilengkapi uji lab dikhawatrikan membawa virus lagi yang tentunya akan merugikan peternak di Bali. (arn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here