Duh, PDAM Badung, Kebocoran Tinggi, Air ke Pelanggan ‘Kecrat-Kecrit’

0
214
Ketua Komisi III Putu Alit Yandinata (kanan) saat memimpin rapat kerja dengan jajaran PDAM Badung.

MANGUPURA – Komisi III DPRD Badung, Rabu (27/1/2020) memanggil jajaran Direksi dan Dewan Pengawas (Dewas) Perumda Air Minum Tirta Mangutama atau yang dulu dikenal PDAM Badung. Direksi mengakui keuangan tahun 2020 mengalami kerugian sebesar Rp 13, miliar. Yang menarik pada saat pertemuan jajaran Dewas ‘menguliti’ isi dapur perusahaan plat merah tersebut.

Rapat dipimpin Ketua Komisi III I Putu Alit Yandinata dihadiri lengkap jajaran Direksi, Seperti Dirut I Ketut Golak, Direktur Umum Ida Ayu Eka Dewi Wijaya, dan Direktur Teknik I Wayan Suyasa. Demikian juga dengan Dewas, hadir Ketua Dewas I Made Suarsa, anggota I Wayan Tirta, dan I Made Dwi Putra Sanjaya. Hadir pula Kabag Perekonoian Setda Badung AA Sagung Rosyawati selaku pembina Perumda

Awal pertemuan, Alit Yandinata memberikan kesempatan kepada Dirut Ketut Golak membeberkan kondisi keuangan termasuk menjelaskan kerugian yang mencapai Rp 13,8 miliar. “Jadi Bapak (Dirut) setuju ada kerugian 13,8 miliar,”tanya Alit Yandinata setelah mendengar pemaparan.  Pertanyaan ini dijawab iya oleh Golak. Selanjutnya giliran Dewas yang diberikan berbicara.

Ketua Dewas Made Suarsa mengaku telah tiga kali memberikan peringatan kepada direksi untuk memperbaiki kinerjanya. Salah satu hal yang diungkap adalah tingginya kebocoran yang mencapai 43%. “Produksi air 43 juta meter kubik tapi yang terjual hanya 22 juta. Kita banyak memproduksi air justru terbuang karena tidak terdistribusi. Jumlah produksi yang tetap, akan tetapi kebutuhan air berkurang, ini menyebabkan beban pembiayaan,”tegas Suarsa.

Anggota Dewas Dwi Putra Sanjaya menegaskan andai saja direksi mengikuti saran dewan untuk melaksanakan sesuai RKAP Perubahan, tentu tidak akan terjadi kerugian. Pada RKAP Perubahan pendapatan dari Rp 270 miliar sudah diturunkan menjadi Rp 221 miliar, beban biaya dari Rp 224 miliar turun menjadi Rp 212 miliar. “Tapi pada kenyataannya beban biaya justru mencapai Rp 217 miliar, meningkat dari RAKP,”katanya.

Tak kalah sengit anggota Dewas Wayan Tirta membeber kebocoran air tiap tahun terus mengalami peningkatan. Tahun 2017 kebocoran 35%, 2018 38%, 2019 42% dan 2020 kebocoran meningkat menjadi 43%. “Perhitungannya kebocoran 1% kita kehilangan pendapatan 1,8 miliar,”ujarnya. Dibagian lain, tren kerugian sebenarnya sudah terlihat sejak bulan Oktober 2020. Kabag Ekonomi Rosyawati mengungkapkan pada bulan Oktober PDAM sudah merugi Rp 4 miliar.

Akan tetapi lanjut Rosyawati, tidak ada terlihat upaya-upaya direksi untuk melakukan efisiensi khusunya pada operasional. “Biaya operasional diatas 100 persen itu sangat tinggi. Direksi gagal menekan biaya operasional. Sudah kami sarankan untuk memperbaiki tapi tidak dilakukan,”tegasnya.

Setelah mendengar penjelasan tersebut Alit Yandinata tidak memberikan lagi jajaran direksi berbicara. “Kan sudah jelas rugi, tidak perlu banyak alasan lagi untuk pembenaran,”katanya. Logikanya sudah jelas, kata dia. Akibat pandemi covid-19, pada RAKP Perubahan dirancang pendapatan turun, karena penggunaan air khususnya diwilayah selatan akan jauh berkurang.

“Jadi logika penggunaan air menurun, pendapatan penurun, produksi air kan harus menurun. Bukan malah meningkat. Yang akan jadi pertanyaan dimasyarakat, produksi air tinggi, air terbuang banyak, justru air kepelanggan kecrat-kecrit, “pungkasnya. (lit)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here