Dugaan Pemukulan Senator Arya Wedakarna, Polisi Sita Handycam Rusak dan Flashdisk

0
69
DIPUKUL : Video screenshot kepala Senator Arya Wedakarna dipukul seorang pendemo. foto/dok.
DENPASAR – Kericuhan dalam aksi demo di Kantor DPD RI Bali hingga berujung pemukulan terhadap Senator I Gusti Ngurah Arya Wedakarna (AWK) tengah diselidiki penyidik Direktorat Reskrimum Polda Bali.

Berdasarkan rilis yang disampaikan Direktur Reskrimum Polda Bali Kombes Dodi Rahmawan, Kamis (29/10/2020), Arya Wedakarna melayangkan laporan ke Polda Bali, Rabu (28/10/2020) sekira pukul 14.00 Wita. Terlapornya,  Gusti Angkasa Permana, dkk.  “Laporan itu terkait dugaan adanya tindak pidana penganiayaan atau kekerasan secara bersama-sama sebagaimana dimaksud dalam pasal 351 KUHP atau pasal 170 KUHP,” ujar Dodi Rahmawan melalui pesan WhatsApp.

Tak hanya meminta keterangan pelapor, penyidik juga memeriksa dua orang saksi serta mengamankan barang bukti satu handycam kondisi pecah (rusak) dan satu flashdisk berisi rekaman pemukulan. “Sementara itu dulu perkembangannya (penyelidikan). Tim masih bekerja,”tegas mantan Kasat Reskrim Polres Jakarta Timur ini.

Mengutip kronologis kejadian sesuai laporan AWK yang disampaikan Kombes Dodi Rahmawan, awalnya pada 27 Oktober 2020 sekira pukul 13.00 Wita, AWK dihubungi Kepala Sekretariat DPD Bali bahwa ada sekelompok massa kurang lebih 30 orang ingin bertemu tanpa ada janji sebelumnya. Karena pelapor tidak ada di kantornya, massa bergerak menuju kampus Mahendradatta. “Saat itu pelapor sedang berada di Istana Presiden Tampak Siring mendampingi Ibu Sukmawati Soekarno Putri,”ujar Dodi Rahmawan.

Tim Protokol DPD membuatkan janji untuk kelompok massa bertemu pelapor, Rabu (28/10/2020). Sekira pukul 12.20 Wita, massa mengenakan pakaian adat madya sudah berada depan gedung DPD RI Provinsi Bali di Jalan Cok Agung Tresna dan melakukan orasi yang menyerang pribadi pelapor. “Tim Protokol DPD bersama saksi dan petugas dari Polsek Dentim meminta pimpinan kelompok massa untuk mengirim perwakilan bertemu dengan pelapor. Namun, permintaan ditolak dan meminta untuk ditemui langsung,”ungkapnya.

Pelapor akhirnya keluar menemui massa kemudian mengundang perwakilan untuk masuk tapi lagi-lagi permintaan itu ditolak.  AWK memerintahkan tim protokol membuka gerbang agar masuk ke gedung.    “Karena massa tetap menolak, pelapor berinisiatif menemui pimpinan kelompok massa dan mengajak dialog di dalam ruangan,”ujar Dodi Rahmawan.

Massa tetap tidak mengindahkan permintaan tersebut hingga terjadi saling dorong antara aparat dan kelompok massa. “Saat itulah, terjadi aksi pemukulan mengenai pipi sebelah kanan sehingga pelapor merasa sakit dan terlihat lebam, luka lecet ditangan sebelah kanan dan kepala bagian tengah mengakibatkan rasa sakit (nyeri) yang diduga dilakukan oleh tiga orang,”tandas perwira malati tiga di pundak ini. (dum)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here