
KARANGASEM – Desa Tenganan Pegringsingan dikenal karena mampu mempertahankan tradisi Bali kunonya.
Desa ini juga dikenal sebagai penghasil kain tenun pegeringsingan sering disebut kain gringsing.
Pembuatan kain ini cukup rumit dan prosesnya memakan waktu lama. Pengerjaannya masih sangat tradisional. Pewarnaannya menggunakan bahan-bahan alami, seperti minyak kemiri untuk mewarnai benang dengan warna kuning, akar mengkudu atau Babakan kepundung untuk mewarnai benang dengan warna Merah dan pohon taum digunakan untuk mewarnai benang warna biru atau hitam.
Proses membuat kain tenun ini mulai dari menggilas kapas menjadi benang, memintal benang, menyusunnya dengan kayu bermotif, menghanai, hingga menenun dan menjadi lembaran kain. Teknik pembuatan kain mengunakan metode dobel ikat.
Peralatan yang digunakan juga masih tradisional, diantaranya alat Penglimbengan untuk membuat panjang kain dan alat Penganyinan untuk membuat lebar kain.
Tak heran jika harga satu lembar kain tenun gringsing ini mencapai Rp 2,5 juta. Karena proses pembuatannya memakan waktu tahunan.
“Kalau untuk saput (kamben) biasanya saya menggunakan dua lembar kain,” ujar salah seorang pengerajin kain geringsing Ketut Sumiatini (42),Selasa (4/8/2020).
Ia mengatakan penjualan kain tenun gringsing akhir-akhir ini sangat lesu akibat dampak dari pandemi Covid-19.
“Biasanya yang beli tamu-tamu asing, namun sekarang tidak ada, walaupun ada hanya orang-orang lokal Bali, dan harga jualnya pun sekarang turun,” keluhnya.
Satu lembar kain tenun yang biasanya dijual dengan harga sekitar Rp 900 ribu kini dijual hanya Rp 700 ribu.
Sumiatini yang sudah menggeluti kerajinan menenun sejak ia duduk di bangku SMP ini memgaku memproduksi kain dengan mengupah sejumlah tenaga kerja. Namun, situasi seperti sekarang, maka ia terpaksa menurunkan bayaran atau upah dari produksi kainnya tersebut.
“Mudah-mudahan ada perhatian dari pemerintah, untuk meningkatkan pemasaran produk. Apalagi di situasi sekarang,” harap Sumiatini. (ami)








