
KUTA – Tidak sedikit pelaku pariwisata di wilayah pulau dewata yang menanggapi positif kemunculan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Nomor M.HH-01.GR.01.07 Tahun 2023 tentang Penghentian Sementara Bebas Visa Kunjungan (BVK) untuk Negara, Pemerintah Wilayah Administratif Khusus Suatu Negara, dan Entitas Tertentu.
Salah satu di antaranya yakni, Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya.
Menurut dia, masyarakat Bali tidak perlu risau dengan hal itu. Apalagi khawatir kebijakan tersebut akan memberikan implikasi buruk terhadap perkembangan pariwisata ke depan.
Karena yang dicabut itu, hanyalah ketentuan bebas visanya. Dengan kata lain, Warga Negara Asing (WNA) tetap bisa melancong ke Bali melalui pengurusan Visa.
“Jadi bukan berarti mereka (wisatawan) tidak bisa datang. Mereka tetap bisa datang dengan menggunakan Visa on Arrival (VoA). Sedangkan bagi yang belum masuk daftar VoA, itu bisa melalui pengajuan permohonan Visa,” ungkapnya.
Di samping dalam rangka untuk memfilter WNA yang masuk wilayah Indonesia. Menurut dia, penghentian pemberlakuan BVK tersebut juga akan membuka peluang pemasukan bagi negara.
Karena ada tarif yang dikenakan, misalnya untuk VoA yang dinilainya hanya sebesar Rp 500 ribu.
“Pertanyaannya, apakah ini tidak akan mengurangi animo untuk ke Bali? Tentu saja tidak. Kenapa? Karena kalau hanya gara-gara Rp 500 ribu per orang mereka tidak ke Bali, berarti mereka adalah orang yang kekuatan spending money-nya kurang. Biarkan saja yang seperti itu tidak ke Bali, daripada di sini mereka kemudian buat ulah,” sebutnya.
Karenanya, Suryawijaya mengaku sangat mendukung kebijakan penghapusan BVK tersebut. Karena menurut dia, itu sekaligus dalam rangka mewujudkan pariwisata yang berkualitas.
“Kebijakan Menkumham ini sejalan dengan arah kebijakan Gubernur Bali dalam menata pariwisata Bali dalam bingkai Bali Era Baru. Yakni Bali dengan pariwisata budaya yang berkualitas dan bermartabat,” tegasnya.
“Jadi ini bagus. Jangan misleading interpretasi terhadap tujuan pemerintah ini. Saya yakin ini tidak akan merugikan. Melainkan justru membantu memfilter wisatawan yang akan datang, agar kelasnya itu adalah middle up. Masa bayar Visa tidak mampu? Kita saja kalau ke luar negeri itu juga bayar Visa. Bahkan bisa lebih tinggi daripada itu,” imbuhnya.
Jangankan angka wisatawan yang turun, Suryawijaya justru meyakini bahwa ke depan kunjungan pariwisata ke Bali akan terus mengalami peningkatan. Bahkan itu diperkirakan melebihi 4,5 juta wisatawan, sebagaimana target Bali untuk tahun 2023 ini.
“Saya optimis, di tahun 2023 target kunjungan wisatawan mancanegara untuk Bali akan mencapai 5 juta. Kenapa demikian? Karena perkembangan dari bulan ke bulan, terus ada peningkatan direct flight. Terakhir, itu ada dari Emirates yang datang dengan pesawat besarnya. Tentu itu merupakan kabar yang sangat baik dan menggembirakan,” pungkasnya. (adi/jon)








