
BULELENG – Serangkaian kegiatan Bulan Bung Karno (BBK) ke-5 tahun 2023, Pemkab Buleleng melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (BKBP) Kabupaten Buleleng menggelar kegiatan Talkshow, Dialog Interaktif bertajuk ‘Tri Sakti Bung Karno’.
Selain memperingati Hari Lahirnya Putra Sang Fajar, tanggal 6 Juni 1901, pada dialog interaktif yang juga menghadirkan narasumber Ketua FPK Kabupaten Buleleng Ida Bagus Lilik Sudirga dan Ketua FKUB Kabupaten I Gede Made Metra juga ditegaskan sinergitas seluruh elemen masyarakat sebagai kunci sukses pengimplemantasian ajaran ‘Tri Sakti Bung Karno’.
“Pengamalan semua konsep Tri Sakti dari Proklamator Bangsa Indonesia akan tetap terjaga jika seluruh stakeholder di daerah bersinergi satu sama yang lain,” tandas Sekda Buleleng Gede Suyasa saat menjadi narasumber dialog interaktif di Kampus STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Selasa (6/6/2023).
Pada dialog yang dihadiri 80 orang peserta dari kalangan mahasiswa, Sekda Suyasa yang juga Ketua PPWK Kabupaten Buleleng menegaskan setiap manusia tetap mengalami dinamika hidup di tengah tantangan global namun makna dari ajaran Tri Sakti Bung Karno, yakni Berdaulat secara politik, Berdikari dalam ekonomi dan Berkepribadian dalam kebudayaan, harus tetap dijadikan pedoman, sebagai jalan keluar untuk dapat membangun kemandirian bangsa.
“Berdaulat secara politik, diimplementasikan Bangsa Indonesia dengan menjalankan politik bebas aktif, yang mana Indonesia tampil untuk mendamaikan dunia,” jelasnya. Berdikari secara ekonomi, diimplementasikan melalui kebijakan pemanfaatan produk lokal/dalam negeri berdasarkan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) minimal 40 % serta penggunaan e-Katalog atau e-Purchasing lokal pada setiap barang, pengadaan pemerintah sehingga tingkat inflasi dapat terkendali,” tandasnya.
Suyasa menandaskan seluruh pengadaan barang harus mengandung TKDN dan pemesanan melalui e-Katalog sudah dilaksanakan Pemkab Buleleng. “Yang pada tahun ini persentase penggunaanya sudah mencapai 66 % dan targetnya ke depan bisa mencapai 80%. Hal ini merupakan implementasi dari ajaran Berkepribadian dalam kebudayaan, meskipun dalam perkembangan teknologi dan informasi, kita tetap harus mengadopsi nilai kebudayaan tradisional yang kita miliki, sehingga kearifan lokal daerah, yang dikatakan Taksu Bali itu tetap terjaga,” terangnya.
Ia menambahkan jika pemerintah yang bertugas untuk membuat regulasi dan memfasilitasi, didukung oleh seluruh elemen masyarakat, niscaya konsep Tri Sakti akan kuat dan konsisten untuk diterapkan. “Semua pengamalan konsep Tri Sakti ini akan berhasil jika semua elemen bisa bersinergi, dan kesadaran masyarakat sangat dibutuhkan dalam menyukseskan terwujudnya konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. (kar,dha)








