
BULELENG – Masyarakat Bali yang tergabung dalam wadah Perkumpulan Dharmopadesa Pusat Nusantara (PPDN) dukung penguatan Adat Budaya Hindu Bali yang dilakukan pemerintah pusat melalui Kementerian Agama (Kemenag) dan Pemerintah Provinsi Bali.
Selain mengorganisir dan pembinaan internal Pasemetonan Brahmana Siwa Budha Nusantara, PDPN juga memberdayakan Pedanda Siwa Budha untuk menyusun revitalisasi tata titi (tuntunan) terkait tatwa, upakara dan upacara Adat serta Agama Hindu.
“Salah satunya melalui kegiatan Paruman Wuku Bala PDPN yang dirangkaikan dengan Pesamuhan Agung Dharma Ghosana dan Pesamuhan Agung Dharma Prawerthi Sabha yang dibuka oleh Ide Peranda Gde Rai Gunung Ketewel selaku Penglingsir Dhang Kertha Upadesa,” ungkap Ketua PDPN Ida Bagus Dunia usai pembukaan kegiatan yang diikuti 300 Pedanda Lanang/Istri Nusantara di Wantilan Pura Melanting Pulaki, Desa Banyupoh Kecamatan Gerokgak, Sabtu (15/4/2023).
Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Republik Indonesia ini menandaskan Paruman Wuku Bala PDPN Tahun 2023 yang dihadiri utusan dari Gubernur Bali, Bupati Buleleng, Forkompincam Gerokgak, Desa Adat Banyupoh serta pasemetonan brahmana se-Bali tidak hanya bertujuan menggali dan mengimplementasikan ajaran Bhatara Sakti Dhang Hyang Dwijendra dan Bhatara Sakti Dhang Hyang Astapaka.
“Pesamuan Agung juga diharapkan dapat menyatukan sekaligus membangkitkan peran serta Peranda dan Pasemetonan Brahmana dalam pembangunan daerah maupun nasional. Khususnya dalam pembangunan adat budaya serta sumber daya manusia (SDM) terutama generasi muda Hindu yang modern, mampu beradaptasi dengan transformasi digital, namun tetap memiliki karakter, adat budaya leluhur sebagai jati diri,” tegasnya.
PDPN juga segera mengesahkan kepengurusan cabang Kabupaten/Kota antara lain Jabotabek dan Denpasar.
Senada dengan Ketua PDPN, I Made Sudarsana selaku Staf Ahli Gubernur Bali Bidang Pembangunan Manusia dan Budaya menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan upaya yang dilaksanakan PDPN sebagai bentuk dukungan Peranda dan Pasemetonan Brahmana Siwa Budha dalam mewujudkan visi pembangunan Sat Kerthi Loka Bali.
“Membangun Bali berdasarkan kearifan lokal, adat serta budaya berfalsafah Tri Hita Karana, sesuai visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yang bermakna menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya, untuk mewujudkan kehidupan krama Bali yang sejahtera dan bahagia, skala niskala, sesuai prinsip Trisakti Bung Karno, Berdaulat secara politik, Berdikari secara ekonomi dan Berkepribadian dalam kebudayaan melalui pembangunan terpola, menyeluruh, terencana, terarah serta terintegrasi dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, berdasarkan nilai-nilai Pancasila,” pungkasnya. (kar/jon)








