
BULELENG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali melalui Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) mensupport upaya percepatan penurunan prevalensi stunting.
Selain menggelontor bantuan paket makanan sehat dan sembako kepada keluarga beresiko, BKOW Bali bersinergi dengan OPD terkait seperti Dinkes, Dinsos dan BP2K3A Kabupaten/Kota se-Bali juga menggencarkan sosialisasi.
“Seperti kita lakukan hari ini di Kabupaten Buleleng, bersama BKOW Kabupaten, OPD terkait dan organisasi wanita yang ada, kita laksanakan sosialisasi pencegahan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang berimplikasi pada stunting,” ungkap Ketua BKOW Provinsi Bali, Tjok Istri Hariyani Ardhana Sukawati usai membuka kegiatan sosialisasi dan menyerahkan paket sembako di Gedung Wanita Laksmi Graha Singaraja, Senin (3/4/2023).
Kegiatan sosialisasi ini, kata Tjok Hariyani, bukan semata lantaran prevalensi stunting di Kabupaten Buleleng naik menjadi 11 persen, atau 11 dari 100 anak mengalami stunting, tapi di seluruh kabupaten/kota di Bali.
“Saat ini, prevalensi stunting di Provinsi Bali sudah turun menjadi 8 persen, dan sesuai instruksi Presiden dan Wakil Presiden diharapkan prevalensi stunting 14 persen pada tahun 2024 dan 0 persen pada tahun 2030 mendatang,” terangnya.
Ia menegaskan, percepatan penurunan kasus stunting harus dilakukan secara bersama-sama, sinergis semua pihak, termasuk organisasi wanita dan yang terpenting keluarga.
“Perempuan memiliki peran penting dalam keluarga, baik itu saat masih remaja, menikah bahkan saat ia melahirkan dan mengasuh anak. Kesehatan seorang ibu harus diperhatikan, mulai dari sebelum menikah hingga melahirkan,” ungkapnya.
Setelah melahirkan, lanjut Hariyani, seorang ibu harus didukung suami dan keluarga dalam merawat bayi yang dilahirkan. “Jenjang-jenjang ini yang harus dikuatkan, pada masa yang disebut dengan Golden Age. Usia emas dari janin sampai tumbuh berkembang hingga berumur 2 tahun atau 1000 hari seorang anak harus diperhatikan, mulai dari perawatan,asupan gizi termasuk kondisi keluarga yang jauh dari tindak kekerasan, KDRT,” jelasnya.
Apabila KDRT dapat dihindari, kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan dalam pola pengasuhan anak sudah dalam kualitas baik, maka akan tercapai keluarga sehat, bahagia dan berkualitas.
“Sehingga berdampak juga pada penurunan stunting. Jadi, peran keluarga terutama perempuan sangat penting sehingga saya mengajak seluruh perempuan untuk turut berperan aktif dalam upaya penurunan prevalensi stunting,” tegasnya.
Senada dengan Ketua BKOW Provinsi Bali, Ida Ayu Wardani selaku sekretaris TP-PKK Kabupaten Buleleng mengapresiasi kehadiran Ketua BKOW Bali dan sosialisasi yang dilaksanakan sebagai support bagi Kabupaten Buleleng dalam percepatan penurunan prevalensi stunting.
“Memang, saat ini prevalensi stunting di Kabupaten Buleleng naik menjadi 11 persen sesuai hasil survey. Hal ini sedang dikaji tim percepatan penurunan stunting, apa benar angka tersebut dan apa penyebabnya sehingga dapat segera dicarikan solusi terbaik,” tandasnya.
Ia menambahkan, BKOW Kabupaten Buleleng bersama organisasi wanita akan menggerakkan seluruh perempuan di Kabupaten Buleleng untuk berperan aktif dalam percepatan penurunan kasus stunting.
“Kami mendukung semua program kegiatan BKOW Provinsi Bali dalam percepatan penurunan stunting serta pemberdayaan kaum perempuan dalam mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender,” pungkasnya. (kar,dha)








