
KUTSEL – Selain Covid-19, Wakil Bupati Badung I Ketut Suiasa juga meminta Camat hingga pada Kepala Lingkungan (Kaling) se-Kecamatan Kuta Selatan untuk menyikapi serius persoalan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Karena Kuta Selatan merupakan wilayah dengan jumlah ternak sapi terbanyak di Kabupaten Badung, setelah Petang.
Disampaikan Wabup Suiasa, di wilayah Kecamatan Petang, jumlah populasi ternak sapi mencapai angka 12 ribuan ekor. Sedangkan di Kuta Selatan, berada pada angka 9 ribuan ekor. Kebanyakan di antaranya, berada di Kelurahan Benoa serta Desa Pecatu dan Ungasan.
Menurut dia, hal itu penting untuk disikapi. Selain demi kesehatan ternak itu sendiri, Kuta Selatan juga menyandang status sebagai wilayah pariwisata internasional. Yang tidak lama lagi, akan menjadi lokasi penyelenggaraan KTT G20.
PMK, menurut dia, menjadi salah satu pertimbangan wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia termasuk Bali. Karena mereka khawatir itu akan ikut terbawa ketika kembali ke negaranya.
“Selama ini Australia menjadi wisatawan nomor satu ke Bali, dan mereka sudah menganggap Bali sebagai rumah kedua. Lantas, kenapa tamu Australia belum signifikan datang ke Bali? Itu karena mereka berhati-hati dengan risiko PMK. Apalagi di sana, aturan mencegah PMK itu ketat sekali. Selain harus karantina, wisatawan yang kembali pulang, juga harus steril pakaiannya. Ini tentunya berpengaruh terhadap animo wisatawan untuk berwisata,” ungkapnya, Kamis (15/9/2022).
Mengantisipasi adanya kasus PMK di wilayah Kuta Selatan, Wabup Suiasa mengaku akan melakukan upaya sistematis dan progresif vaksinasi ternak. Dan di sisi lain, para kaling serta tokoh masyarakat setempat di Kuta Selatan diminta untuk turut bergerak menyadarkan para pemilik ternak dalam menyukseskan vaksinasi.
Tidak dipungkiri dia, vaksinasi PMK di Badung pada saat ini belum menginjak angka 100 persen. Hal tersebut dipengaruhi pula oleh tidak banyaknya jumlah vaksinator yang dimiliki. Sementara jumlah ternak sapi di Badung, adalah mencapai angka sekitar 44.500 ekor.
“Ini tentu akan menjadi tantangan tersendiri bagi kami,” ungkapnya.
Di sisi lain, dia juga mengaku akan segera berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Bali. Utamanya berkenaan dengan ketersedian vaksin PMK. Selain itu, juga berkaitan dengan relaksasi mobilitas ternak. Mengingat Badung pada khususnya, adalah wilayah dengan status hijau.
“Kita perjuangkan relaksasi aturan ini berkaca dari urgensi dan kondisi di lapangan. Karena kan kasihan para peternak kita yang sangat merasakan dampaknya. Mereka tidak bisa menjual ternaknya, sementara biaya pemeliharaan terus berjalan,” ucapnya sembari menambahkan bahwa, hal itu juga membuat banyak pekerja di Pasar Beringkit jadi menganggur.
Terpisah, Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, I Gede Asrama menuturkan bahwa proses vaksinasi hingga saat ini masih terus berjalan. Bukan hanya bagi sapi, melainkan juga babi.
Kaitan dengan itu pula, maka dirinya meminta para kaling untuk turut bergerak memberikan atensi. Hal tersebut tentunya untuk membantu memperlancar proses vaksinasi ke depannya.
“Sambil menunggu vaksinasi sapi putaran kedua usai, agar didata populasi babi masing-masing. Dari data kami, jumlah ternak babi di Badung berada pada angka 22.312 ekor,” singkatnya. (adi/jon)








