
BADUNG- ‘Bali Five Art Exhibition for Charity’, pameran pertama dari lima perupa Bali yaitu I Made Wiradana, I Made Bakti Wiyasa, I Nyoman Loka Suara, Pande Nyoman Alit Wijaya Suta dan Ni Wayan Sutariyani. Pemeran digelar mulai Sabtu, 23 Juli hingga 6 Agustus 2022 di Villa Sri Malen, Canggu, Kerobokan, Kuta Utara, Badung.
Pameran untuk charity kali ini rencananya didonasikan untuk pelestarian dan perlindungan hutan hujan di Kalimantan. Menariknya, pameran tidak dilaksanakan di gallery atau studio, melainkan rumah menjadi pilihan untuk mengapresiasi karya -karya yang akan diletakan pada titik perhatian atau sudut-sudut ruangan kosong yang memanjakan 25 karya inovatif dengan berbagai tematik, baik lukisan tradisi, modern maupun kotemporer.
Satu di antaranya karya lukisan berjudul Maospahit Grenceng Temple @ Denpasar, Watercolor on paper. 54 cm x 73 cm. 2022. Lukisan Bakti Wiyasa ini menampilkan keindahan warisan tinggalan budaya di sudut kota Denpasar di Pura Maospahit Gerenceng. Keindahan Pura Kuno dengan tatanan arsitektur tradisional yang lestari menjadi informasi bernilai dalam mengenal budaya Bali lewat karya cat air ini.
Karya lainnya berjudul ‘Bali in a Collective Rhythm’ dibuat dengan bahan cat air diatas kertas. Lukisan ini menampilkan tarik kecak dengan pusat perhatian pada penari wanita dan pria di tengah tengah bersama tiang obor api. Lewat karya spirit kebersamaan, mengindahan kehidupan kolektif secara adat dan budaya Bali ditampilkan.
Perupa Ni Wayan Sutariyani mennuturkan, pameran kali ini menampilkan karya-karya para perupa Bali dengan ciri khas yang beragam, mulai tradisi, modern dengan beragam aliran dan goresan sarat pesan.
“Terbentuknya Bali Five ini merupakan upaya untuk memperkenalkan ini lho Bali, memiliki keunggulan, tradisi, budaya yang sangat beragam melalui seni rupa,sehingga lewat obrolan kita sepakat berlima membentuk Bali Five ini, dan inilah pameran kita yang pertama,” tutur seniman perempuan asal Payangan, Gianyar ini, Jumat (22/7/2022) sore.
Ia menyampaikan, karya yang ditampilkan dalam pameran ini murni untuk program charity, dimana sebagian hasilnya akan didonasikan untuk program pelestarian lingkungan.
“Saya tertarik untuk ikut dalam pameran ini, tak serta merta untuk profit saja melainkan kita berbuat dari hal yang kecil namun memiliki manfaat untuk kepentingan social, lingkungan, yang kebetulan ada pihak lembaga yang bergerak dibidang pemerhati asal Jerman berkolaborasi dengan Indonesia,” ungkapnya.
Perupa Kadek Bakti Wiyasa menimpali, tercetusnya pameran ini memang lahir dari sebuah obrolan secara inten dengan beberapa teman dari Bali lewat online dan menjalin persahabatan dengan salah sahabat dari Jerman.
“Saat pandemi kami sering ngobrol secara daring, akhirnya bertemu dengan Mr. Ernst dan Ibu Dian Flugel dari Jerman dan membantu para perupa di Bali memasarkan karya-karya seniman Bali di berbagai negara, dan sebagian hasilnya didonasikan melalui program charity membantu warga di Bali terdampak Covid-19, apalagi pariwisata Bali benar-benar mati suri,” jelas Bakti.
Sementara, Dian Flugel mengutarakan rasa senang bisa menjalin persahabatan dengan kawan -kawan perupa di Bali.
“Kami sangat bangga menjadi host pameran Bali 5 yang pertama. Pada awalnya, kami adalah orang asing yang berkumpul secara online untuk tujuan yang baik. Sekarang kami adalah teman yang ingin membuat perbedaan bersama melalui seni. Just do it (lakukan saja) dan sesuatu yang baru akan tercipta – itulah semangat Bali 5, yang sangat kami sukai,” ungkap Dian keturunan Indonesia namun lahir dan menikah dengan warga Jerman itu.
Ia menambahkan, melalui pameran ini, persahabatan Jerman-Indonesia yang indah tumbuh bersama dengan para perupa di Bali, terutama dengan Bali Five.
“Terima kasih atas komitmen, dukungan dan persahabatan Anda. Sebagian dari hasil penjualan karya seni disumbangkan untuk perlindungan hutan di Kalimantan. Visinya adalah untuk membawa perlindungan ekonomi, satwa dan lingkungan yang selaras dengan penduduk setempat,” tandasnya.
Sekadar diketahui, perupa I Made Wiradana, I Made Bakti Wiyasa, I Nyoman Loka Suara, Pande Nyoman Alit Wijaya Suta dan Ni Wayan Sutariyani tak asing lagi di jagat seni rupa Bali, nasional, bahkan pernah mengikuti pameran di beberapa negara. Kini, mereka menghimpun diri dalam kelompok Bali Five yang berdiri sejak dua tahun tepatnya jelang masa pandemi. (sur)








