
BULELENG – Diduga lantaran 2 bulan lalu digigit anjing, seorang siswa kelas II SD I Kadek Asoka Pramana (7) dinyatakan meninggal dunia akibat suspek rabies.
Naas yang menimpa anak kedua pasangan suami istri (pasutri) Putu Oka Permana (30) dan Kadek Wintarini (28) beralamat Jalan Sahadewa Gang IV Kelurahan Banjar Tegal Kecamatan Buleleng ini terungkap pada hari Rabu (15/6/2022) pukul 10.03 wita.
“Pasien diterima IGD RSUD Buleleng pukul 10.03 wita, sudah dalam keadaan meninggal dunia, dengan diagnosa meninggal dunia akibat suspek rabies,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Buleleng, Sucipto, Rabu (15/6/2022).
Kadiskes Sucipto memaparkan penyebab kematian pasien masih diobservasi lebih lanjut oleh tim dari unsur Dinkes dan Distan Buleleng karena kondisi anjing penggigit pasien belum diketahui secara pasti.
“Observasi terhadap anjing penggigit sangat dibutuhkan dalam penanganan dan penanggulangan lebih lanjut,” tandasnya.
Namun dari keterangan pihak keluarga dan rekam medis terungkap, pasien yang berdomisili di Jalan Dahlia III/33 BTN Wira Sambangan, digigit anjing kecil yang dibawa temannya 2 bulan lalu.
“Pasien mengalami luka pada ujung jari telunjuk tangan kanan dan oleh temannya anjing penggigit langsung dibuang,” artinya.
Luka gigitan anjing pada ujung telunjuk kanan pasien, lanjut Sucipto, hanya dicuci oleh ibunya, tidak dibawa ke Puskesmas atau RS untuk pengobatan lebih lanjut.
“Mungkin karena lukanya kecil, sehingga mengabaikan resiko terinfeksi rabies. Karena badannya meriang, Senin (13/6/2022) pasien dibawa ke Puskesmas Buleleng II untuk berobat, tidak sampai dirawat inap,” ungkapnya.
Pasien dibawa ke IGD RSUD setelah hari berikutnya kondisinya semakin memburuk dengan gejala sering meludah, halusinasi, tidak bisa menelan, gelisah, takut angin dan mulut berbusa.
“Saat diterima IGD RSUD pasien sudah dalam kondisi meninggal dunia,” tegasnya.
Ia menambahkan, selain penanganan terhadap pasien tim medis RSUD Buleleng juga melaksanakan tindakan preventif berupa vaksinasi anti rabies (VAR) terhadap orang tua dan kakak korban.
“Vaksinasi kita lakukan sebagai upaya antisipasi mengingat riwayat anjing penggigit masih belum diketahui secara pasti. Penelitian dan observasi sedang dilakukan tim medis Dinkes bersama tim Distanak untuk dapat menentukan penanganan dan penanggulangan terhadap kasus ini lebih lanjut,” tandas Sucipto sembari mengajak dan mengimbau warga masyarakat agar mencermati anjing peliharaan dan segera melapor kepada aparat desa bila ditemukan gejala terinfeksi rabies seperti takut angin, takut sinar matahari dan mulut berbusa. (kar,dha)








