
JEMBRANA – Demam tanam porang petani di Jembrana dilakukan sejak 2 tahun terakhir. Petani beramai-ramai bercocok tanam porang di lahan perkebunan mereka. Setelah memasuki masa panen ternyata tidak sesuai harapan.
Memasuki masa panen kali ini, petani dihadapkan pada persoalan tidak adanya pembeli/pengepul yang mau membeli umbi porang. Seperti dilontarkan Aji Mustika, petani asal Desa Penyaringan Selasa (29/3), dia mengaku sudah cukup lama bergelut tanaman porang di lahan miliknya mencapai 50 are.
Sekarang tanaman porang yang ditanam di sela tanaman inti perkebunan, padahal sudah siap untuk dipanen. “Sayangnya, jangankan dapat informasi tentang harga yang layak, bahkan pengepul tak satu pun nongol ke petani,” sungutnya.
Dulu saat mulai tanam, porang disebut punya harga jual tinggi antara 10-12 ribu/kg, namun sekarang harganya berapa dan siapa yang akan membeli, tak jelas kabar beritanya.
Dengan tak adanya kepastian soal harga dan pembeli porang. Mustika yang memulai tanam porang sekitar 2 tahun lalu, hanya bisa membiarkan tanaman porang di kebunnya.
“Semestinya porang yang kami tanam sudah siap dipanen, karena usia tanam sudah berjalan 2 tahunan, lantaran tak adanya pembeli yang turun ke petani, terpaksa tanaman porang tetap tumbuh di kebun,” paparnya.
Biasanya memasuki masa panen, pembeli sudah pada ramai berdatangan. Kabar terakhir dia dapat, bahwa harganya umbi porang sudah jauh menurun Rp4.000-Rp5.000/kg. Sangat jauh dibanding, sewaktu porang masih menjadi tanaman liar harga Rp9.000 sampai Rp10.000/kg umbi basah.
“Keadaan seperti ini, mematahkan semangat petani. Di awal umbi porang, katanya laku untuk keperluan ekspor lewat distributor di Surabaya. Sekarang malah tak ada yang mau membeli,” pungkasnya. (ara,dha)








