
DENPASAR – Karya seni seniman Bali, I Ketut Putrayasa, kembali mendapat pengakuan di tingkat internasional. Berawal dari unggahan karya patung “Anak Elang” yang terpajang di dealer resmi Harley-Davidson Jakarta dan beredar di media sosial, sejumlah perwakilan dari Besiktas Istanbul BAU University Turkey International tertarik untuk melihat langsung karya tersebut.
Bahçeşehir University (BAU), sebuah universitas swasta terkemuka di Turki yang berpusat di distrik Beşiktaş, Istanbul. Didirikan pada tahun 1998, universitas ini dikenal luas melalui reputasinya sebagai “A World University in the Heart of Istanbul” berkat jaringan global yang kuat dan komunitas mahasiswa internasional yang sangat besar.
Ketertarikan itu mendorong mereka terbang langsung dari Turki ke Jakarta untuk menyaksikan secara dekat mahakarya Putrayasa. Kunjungan tersebut berbuah kepercayaan besar.
Mereka pun memesan empat patung yang akan dijadikan ikon kampus dengan mengusung tema spirit, kekuatan dan futuristic.
Menurut seniman I Ketut Putrayasa, pengerjaan patung ini selama tiga bulan. Konsep tersebut diterjemahkan ke dalam karya seni tiga dimensi dengan teknik anyaman berbahan logam.
Melalui pendekatan ini, ia sekaligus memperkenalkan kepada dunia bahwa Indonesia, khususnya Bali, memiliki tradisi menganyam yang telah diwariskan secara turun-temurun dan tetap relevan dalam karya seni kontemporer.
“Konsep spirit, kekuatan, dan kesatuan kami terjemahkan dalam bentuk karya tiga dimensi menggunakan teknik anyaman logam. Di sini saya ingin memperkenalkan kepada dunia bahwa Bali memiliki tradisi menganyam yang kaya nilai dan diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar pria asal Tibubeneng, Kerobokan, Kuta Utara, Minggu (7/6/2026).
Putrayasa menegaskan bahwa karya tersebut bukan sekadar objek estetika, melainkan sebuah pernyataan bahwa seni adalah energi yang terus tumbuh dan berkembang dalam memaknai berbagai tantangan zaman dan seni akan selalu menjadi ruang yang hadir dalam setiap peristiwa kehidupan.
Ia menjelaskan, tradisi menganyam mengandung nilai-nilai luhur yang sangat relevan dengan kehidupan modern, seperti fleksibilitas, kebersamaan (unity), dan ketangguhan (resilience). Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi utama dalam penciptaan karya tersebut.
Sebagai seniman, Putrayasa berharap karya yang telah dipajang di Turki itu dapat menjadi penanda sekaligus pengingat eratnya hubungan antara Indonesia dan Turki yang telah terjalin sejak masa Kekaisaran Ottoman hingga saat ini.
“Saya berharap karya ini menjadi simbol persahabatan dan pengingat bahwa hubungan Turki dan Indonesia telah terjalin sejak era Ottoman dan terus berkembang hingga hari ini,” ungkapnya.
Untuk diketahui, hubungan Indonesia dan Turki merupakan kemitraan strategis yang berakar sejak abad ke-16 dan secara resmi menjadi hubungan diplomatik pada tahun 1950. Sebagai dua negara dengan mayoritas penduduk Muslim dan kekuatan ekonomi yang terus berkembang, Indonesia dan Turki menjalin kerja sama erat di berbagai bidang strategis.
Salah satu pilar utama hubungan kedua negara adalah sektor pertahanan dan industri strategis, yang mencakup produksi bersama, transfer teknologi, hingga pengadaan alat utama sistem persenjataan. Selain itu, kerja sama perdagangan dan ekonomi juga terus meningkat sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan bilateral yang saling menguntungkan.
Melalui karya seni yang melintasi batas negara, I Ketut Putrayasa menunjukkan bahwa seni tidak hanya menjadi medium ekspresi budaya, tetapi juga jembatan diplomasi yang mempererat hubungan antarmasyarakat dan antarbangsa.(sur)








