
GIANYAR – Museum Sumpah Pemuda di bawah wewenang Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi menggelar pameran bertajuk “Lantera: Langkah Tegas dan Berani Tjokorda Gde Raka Soekawati”. Pameran yang digelar pada 9 hingga 13 November 2022 di Puri Kantor Ubud, Bali ini mengisahkan jejak seorang tokoh Bali bernama Tjokorda Gde Raka Soekawati yang juga merupakan Presiden Indonesia Timur zaman serikat.
Tjokorde Gde Raka Soekawati merupakan anggota dewan rakyat Hindia Belanda (Volksraad), pertama dari Bali yang menjelma sebagai Lantera (Pencerah) bahwa orang Bali bisa melangkah maju, setara dengan yang lainnya.
Selain itu, Tjokorda Gde Raka Soekawati merupakan satu-satunya orang Bali yang menghadiri Kongres Pemuda Kedua 27-28 Oktober 1928 yang menghasilkan Ikrar kebangsaan Sumpah Pemuda. Ia menjadi sosok Lantera bahwa sekalipun sebagai anggota dewan rakyat, mau berkumpul dan mendengarkan para anak muda bersuara.
Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, Tjokorda Gde Raka Soekawati menghadapi berbagai dinamika masa revolusi. Jabatan Presiden Negara Indonesia Timur (NIT) yang dipegangnya merupakan sebuah persimpangan menuju ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia sosok yang konsekuen dan konsisten dalam mengambil setiap kebijakan.

Staf Ahli Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Bidang Hubungan Lembaga dan Masyarakat Prof. Dr. H. Muhammad Adlin Sila, M.A., Ph. D., sangat menyambut positif digelarnya pameran ini. “Kita bisa mengenal sosok Tjokorda Gde Raka Soekawati yang mungkin sebagian dari kita belum banyak mengetahuinya,” katanya.
“Sebuah terobosan di masa lalu terjadi saat seorang putra Bali bernama Tjokorda Gde Raka Soekawati membawa rombongan seniman Bali pada sebuah Pameran Kolonial yang berlangsung di Paris, Perancis tahun 1931.
Terlepas dari pameran yang bermaksud unjuk kuasa negeri penjajah, Tjokorda Gde Raka Soekawati mengambil peluang tampil di hadapan masyarakat mancanegara untuk memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Bali. Penampilan rombongan seniman Bali ini pun mengundang banyak pujian dan decak kagum dari berbagai pihak, sehingga mereka yang hadir menyaksikan ingin mengetahui lebih dalam mengenai seni dan kebudayaan Bali.
Yang dilakukan oleh Tjokorda Gde Raka Soekawati di masa lalu itu adalah sebuah diplomasi budaya yang kali pertama dilakukan oleh orang Bali sendiri di luar negeri. Tentunya diplomasi ini berdampak signifikan kepada meningkatnya kunjungan turis luar negeri yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai seni dan budaya Bali.
Sementara Kepala Museum Sumpah Pemuda Titik Umi Kurniawati memaparkan, serangkaian kegiatan sebelum pameran ini dilaksanakan telah dilakukan dari mulai melakukan pengkajian tokoh Tjokorda Gde Raka Soekawati yang telah dilaksanakan di Bali.
Pertama, kajian studi awal dilakukan pada bulan November 2019 dan selanjutnya terus dilakukan secara berangsur-angsur hingga pada bulan Februari 2022. “Kajian ini dilakukan di berbagai tempat dan mewawancarai beberapa narasumber terkait, baik di Bali itu sendiri hingga di DKI Jakarta”, ujarnya.
Sementara salah satu cucu Tjokorda Gde Raka Soekawati, Tjokorda Gde Asmara Putra Sukawati mengatakan kakek menjadi suri tauladan bagi cucunya bahkan secara luas bagi masyarakat. Sebab selama ini masyarakat hanya mengenal kakek sebagai Presiden Negara Indonesia Timur.
Bukan hanya sebagai politisi semata tapi juga berdiplomasi dengan kebudayaan. “Begitu juga saya sebagai cucunya, tapi semakin kita gali semakin luas yang kita tahu tentang perjuangan beliau, baik dalam pergerakan sebelum kemerdekaan dan pasca kemerdekaan, yang bisa menjadi motivasi,” terang Cok Asmara yang juga anggota DPRD Bali ini.
Dalam pembukaan pameran temporer yang dihelat secara luring ini turut dihadiri Wakil Gubernur Bali, Kapolda Bali, Tjokorda Gde Putra Sukawati (Penglingsir Puri Agung Ubud), Tjokorda Raka Kerthyasa (Bendesa Adat Bale Agung Ubud), Tjokorda Gde Asmara Putra Sukawati (perwakilan ahli waris), Bupati Kabupaten Gianyar, Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Provinsi Bali, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gianyar, Kepala
Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali, Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, Kepala Balai Konservasi Borobudur, Kepala Museum Benteng Vredeburg, Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya D.I. Yogyakarta, Kepala Museum Sumpah Pemuda sekaligus Plt. Kepala Museum Basoeki Abdullah, dan keluarga Tjokorda Gde Raka Soekawati. (jay,dha)








