
KUTSEL – Angka UMKM di wilayah Kabupaten Badung diperkirakan akan mengalami penurunan. Prediksi tersebut seiring dengan perkembangan kondisi pariwisata saat ini, yang terbilang sudah mulai bergeliat. Demikian mengutip penyampaian Kepala Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan (DikopUKMP) Badung, Made Widiana, belum lama ini.
Widiana membeberkan, pada tahun 2019, jumlah UMKM di Kabupaten Badung hanya mencapai 19.234. Namun menurut catatan tahun 2022, angka tersebut melonjak drastis menuju 40.989 UMKM.
Menurut dia, hal itu terjadi akibat pandemi Covid-19 yang sempat melumpuhkan sektor pariwisata. Sehingga banyak pekerja pariwisata yang beralih menggeluti sektor UMKM, semata-mata untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Karena itulah Widiana meyakini, di tengah menggeliatnya kembali sektor pariwisata, maka jumlah UMKM di Badung akan mengalami penurunan. Karena pekerja pariwisata yang sempat beralih, kembali dipanggil untuk bekerja di sektor pariwisata.
Meski meyakini, Widiana mengaku belum memiliki data pasti soal hal tersebut. Karena banyak UMKM yang terdata, tidak memberitahukan keberlangsungan masing-masing kepada pihaknya.
Namun belajar dari kondisi pandemi Covid-19, dia berharap agar masyarakat bisa lebih serius untuk menggarap sektor UMKM. Karena telah terbukti mampu tetap bergerak di tengah kondisi pandemi sekalipun.
Guna memelihara UMKM yang masih bertahan, Widiana memastikan akan kembali melakukan pendataan. Bahkan ada rencana, nantinya mereka akan diberi bantuan free ongkos kirim apabila bersedia masuk ke dalam sebuah platform digital yang disiapkan. Rencana dimaksud akan segera disampaikan ke Bupati Badung, dengan harapan bisa direalisasikan.
“Jika terwujud, tentunya ini akan menjadi semacam stimulus berkepanjangan untuk memotivasi para pelaku UMKM di Badung,” ucapnya.
Dia juga menyebutkan rencana yang diketahui telah diterapkan pula di daerah lain, dan terbukti mampu berkontribusi terhadap pendapatan daerah serta perkembangan UMKM lokal. Itupun dirasa dapat sekaligus membawa dampak positif terhadap database yang dimiliki. Karena UMKM akan secara aktif melaporkan keberadaan masing-masing.
“Pasar telah terbuka lebar di era digital ini. Jadi gunakanlah, dengan tetap memperhatikan kualitas,” ucapnya sembari menyebut bahwa upaya yang dilakukan itu juga untuk mendorong UMKM naik kelas. (adi/jon)








