Buka Lokasaba VIII MGPS2R Buleleng, Bupati Minta Jalankan Visi Misi Organisasi

0
46
Pembukaan Lokasaba VIII MGPS2R Buleleng oleh Bupati Buleleng didampingi Ketua MGPS2R Bali

BULELENG – Pembukaan Lokasaba VIII Maha Gotra Sanak Sapta Rsi (MGPS2R) Kabupaten Buleleng Tahun 2020, tak hanya dimanfaatkan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana untuk memberikan suport dan motivasi kepada organisasi kemasyarakatan yang dibentuk warga pasek tersebut.

“Saya berharap, Lokasaba VIII ini menghasilkan pemimpin terbaik serta program kerja sesuai visi dan misi organisasi Maha Gotra Sanak Sapta Rsi,” tandas Bupati Suradnyana, Minggu (08/11/2020) siang saat membuka kegiatan di Sekretariat MGPS2R Kabupaten Buleleng di Desa Sambangan Kecamatan Sukasada.

Sesuai dengan Tema Lokasaba VIII tahun 2020, kata Suradnyana, pengurus dan seluruh warga pasek yang tergabung dalam MGPS2R Kabupaten Buleleng juga diharapkan memiliki database terkait potensi sumber daya manusia (SDM), meningkatkan soliditas serta kapasitas organisasi secara internal maupun eksternal.

“Sehingga tujuan MGPS2R melaksanakan swadarmaning (kewajiban) warga pasek yakni Astiti ring Ida Sang Hyang Widi Wasa (Yakin kepada Tuhan), Bhakti ring Kawitan (Berbhakti kepada Leluhur), Tindih ring Bhisama (Patuh kepada Keputusan) dan Guyub ring Semeton (Peduli kepada Saudara) dapat terwujud,” tandasnya.

Dengan potensi yang dimiliki, MGPS2R juga diharapkan dapat bersinergi dengan elemen masyarakat yang lain, termasuk pemerintah dalam pembangunan daerah yang juga bertujuan mensejahterakan masyarakat.

“Termasuk berperan serta dalam menghadapi Pandemi Covid-19,” tandasnya.

Hal senada diungkapkan oleh Ketua MGPS2R Provinsi Bali I Nyoman Giri Prasta. Calon Bupati Badung ini berharap MGPS2R Kabupaten Buleleng yang kini dinahkodai Gede Sumenasa selaku ketua terpilih, segera melakukan konsolidasi, pendataan potensi warga pasek dan membuat data base.

“Melalui database yang kami istilahkan data besar atau big data, kami yakin bisa berbuat lebih baik dalam membangkitkan Astiti ring Hyang Widi Wasa, Bhakti ring Kawitan, Tindih ring Bhisama dan Guyub ring Semeton,” tegasnya.

Karena kepercayaan Hindu Nusantara di Bali adalah Dharmaning Leluhur (Kewajiban kepada Leluhur), Dharmaning Agama (Kewajiban kepada Agama) dan Dharmaning Negara (Kewajiban kepada Negara.

“Inilah yang kami akan luruskan, termasuk prosesi panca yadnya, sehingga persaudaraan dan pasemetonan di Bali dapat dilakukan dengan baik,” pungkasnya. (kar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here