
BULELENG – Pembukaan Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 berlangsung dalam nuansa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Jumat (3/7/2026).
Alih-alih diawali tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama atau Sekar Jagat di panggung utama, festival justru dibuka dengan sebuah pertunjukan tari kontemporer yang tampil di area pintu masuk kawasan bersejarah lokasi acara.
Tari berjudul Perempuan di Sawah yang dibawakan Komunitas Lemah Tulis hadir menyambut pengunjung langsung di tengah ruang penonton, menciptakan pengalaman artistik yang lebih dekat dan imersif. Karya ini menonjolkan tubuh sebagai medium bahasa simbolik untuk menyampaikan gagasan, emosi, hingga kritik sosial.
Berbeda dari tari penyambutan pada umumnya yang menekankan estetika visual, karya ini justru mengedepankan narasi kehidupan agraris dengan pendekatan gerak kontemporer. Lima penari perempuan tampil dengan kostum sederhana, diperkuat iringan musik elektronik yang membangun atmosfer dramatik sekaligus reflektif.
Koreografer Putu Bratria Dama Dayanu menjelaskan, karya tersebut merupakan pengembangan dari garapan teater tahun 2024 berjudul Prakertaning Dharma Pemaculan yang kemudian dipadatkan agar sesuai dengan tema SLF tahun ini yang menyoroti isu perempuan.
“Tari Perempuan di Sawah sebenarnya merupakan hasil pemangkasan dari garapan Teater Trikaltari tahun 2024. Agar sesuai dengan tema SLF tahun ini, yakni perempuan, saya mengangkat sebagian cerita dari karya tersebut dengan judul yang berbeda,” ujarnya usai pementasan.
Tari ini menggambarkan perempuan sebagai penjaga ruang kehidupan agraris, terutama dalam menjaga ketahanan pangan dan kesinambungan tradisi pertanian Bali. Gerak keseharian petani dipadukan dengan eksplorasi tubuh yang lebih bebas, menghadirkan tafsir baru atas relasi manusia dengan alam.
Pertunjukan dibagi dalam beberapa segmen. Bagian pertama menampilkan simbol mapag toya melalui properti kendi, menggambarkan penghormatan terhadap air sebagai sumber kehidupan dalam sistem irigasi pertanian.
“Mapag toya merupakan simbol bahwa air adalah bagian paling penting dalam pengairan sawah,” jelasnya.
Bagian berikutnya mengeksplorasi gerak tangan yang dikaitkan dengan ilmu Jyotisa atau perbintangan, merepresentasikan pengetahuan tradisional petani Bali dalam menentukan waktu tanam berdasarkan wariga dan pergerakan alam.
Segmen ketiga menampilkan aktivitas keseharian di sawah, mulai dari menanam padi, mencangkul, hingga mengusir burung, yang divisualisasikan dalam rangkaian gerak dinamis penuh ritme kehidupan pedesaan.
Puncak pertunjukan ditutup dengan simbol pemuliaan sawah yang merepresentasikan nilai-nilai spiritual dan ekologis. Unsur Tari Sang Hyang Dedari dihadirkan sebagai penanda hubungan manusia dengan alam yang tidak terpisahkan dari dimensi sakral.
Pertunjukan berdurasi sekitar 10 menit ini semakin kuat dengan penggunaan musik elektronik yang berpadu dengan unsur tradisi. Kostum penari yang didominasi warna merah, hitam, dan putih merepresentasikan Tridatu sekaligus nilai Tri Hita Karana.
“Walaupun mengangkat tema persawahan, konsep Tri Hita Karana tetap hadir di dalamnya. Ada aspek Palemahan, Pawongan, dan Parahyangan,” pungkas Putu Bratria.
Kehadiran tari kontemporer ini menandai wajah baru pembukaan SLF, yang tidak hanya menjadi ruang literasi, tetapi juga ruang dialog seni, tradisi, dan gagasan kritis atas kehidupan masyarakat agraris di tengah arus modernitas.








