
BULELENG – Lantaran nekat mendaki Gunung Agung tanpa pemandu, seorang Warga Negara Asing (WNA) asal Nowegia berinisial BG (Lk/41) terpaksa diamankan dan lanjut dideportasi ke negara asalnya.
Tindakan administrasi keimigrasian berupa pendeportasian dan penangkalan dilakukan Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas I TPI Singaraja berdasarkan hasil penyelidikan atas laporan otoritas setempat.
“Segera setelah laporan diterima, kami langsung menerjunkan tim ke lokasi dan mengamankan WNA yang bersangkutan untuk diperiksa lebih lanjut di kantor,” ungkap Kepala Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas I TPI Singaraja Hendra Setiawan dikonfirmasi, Senin (24/2/2025).
Hendra Setiawan memaparkan, sesuai hasil penyelidikan pengelola setempat telah memberikan himbauan kepada WNA yang bersangkutan agar tidak melakukan pendakian tanpa didampingi oleh pemandu, sesuai Surat Edaran Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Nomor : B.24.500.4.1/95/UPTD.KPHBT/DKLH Tahun 2025 tentang Pencegahan Risiko Pendakian ke Gunung Agung pada kondisi cuaca ekstrem.
“Namun, yang bersangkutan tidak mengindahkan dan berupaya mengelabui petugas setempat. Yang bersangkutan juga sempat mendokumentasikan spanduk larangan, tetapi tetap mengabaikan,” terangnya.
Perbuatan BG masuk ke Indonesia tanggal 2 Februari 2025 melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, terbukti melanggar aturan pendakian di Gunung Agung.
Atas perbuatanya, kata Hendra Setiawan, pemegang visa kunjungan (VOA) yang berlaku hingga tanggal 3 Maret 2025 ini dikenakan tindakan administratif keimigrasian berupa pendeportasian dan penangkalan.
“Pendeportasian telah dilakukan pada tanggal 20 Februari 2025 melalui Bandara I Gusti Ngurah Rai dengan penerbangan Air Asia X Berhad nomor penerbangan D7799 dengan tujuan Kuala Lumpur, Malaysia,” tandasnya.
Selain tindakan tegas, tim juga telah melakukan tindakan pencegahan atau perventif berupa pemasangan baliho himbauan pendakian kawasan Gunung Agung sesuai surat edaran Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup.
“Langkah preventif dan tindakan tegas kita lakukan untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan akibat pendakian tanpa pemandu,” pungkasnya. (kar/jon)