GianyarLingkungan

TPS Liar Masih Marak di Gianyar

Dewan Minta Jadwal Pembuangan Sampah Dirombak

GIANYAR – Program pemilahan sampah dalam menekan volume sampah ke TPA Temesi masih menjadi sorotan masyarakat.

Hampir dua bulan kebijakan diterapkan, masih banyak dijumpai TPS liar di sepanjang jalan menuju Kota Gianyar. Di antaranya, di jembatan Bona dan Jalan Raya Gajah Mada Blahbatuh.

“Kita minta Pemkab Gianyar tidak setengah-setengah dalam menjalankan kebijakan supaya tidak menjadi bumerang. Dalam artian, program yang diharapkan menjadikan Gianyar bersih dari sampah justru menjadi penyebab pencemaran lingkungan,” ujar Anggota DPRD Gianyar, I Gusti Ngurah Kapidada, Rabu (19/6/2024).

Politisi Partai Gerindra asal Blahbatuh ini menyoroti masih banyak ditemukan sampah dibuang ke sungai dan lahan hijau, serta tergeletak di sisi jalan.

BACA JUGA:  Peracik DMT di Gianyar Ternyata Ahli Kimia Lulusan Dubai

Selain pencemaran lingkungan karena pembuangan sampah sembarangan, juga masih ditemukan pembakaran sampah yang kembali massif.

“Pembakaran sampah ini sama saja dengan pencemaran lingkungan, dan dampaknya sangat berbahaya bagi pernapasan,” ujarnya.

Kapidada juga meminta bagi desa-desa yang mendapat TPS3R, dan bantuan truk agar lebih mengoptimalkan fasilitas yang dimiliki, dan tidak lagi membuang sampah ke TPA Temesi.

“Kami minta agar dinas mendata desa-desa yang sudah memiliki TPS3R supaya tidak dikasi membuang sampah ke TPA Temesi, dia harus mengelola sendiri sampahnya. Dan, yang boleh membuang sampah ke TPA Temesi hanya yang tidak memiliki TPS3R,” ujarnya.

BACA JUGA:  BNN Bongkar Clandestine Lab "Zombie" di Gianyar

Selain itu, pihaknya juga meminta agar jadwal pembuangan sampah dirombak, yakni jadwal pembuangan sampah residu diperbanyak.

Saat ini sampah residu hanya dijadwalkan dua hari, yakni Minggu dan Kamis. Menurut Kapidada hal itu penting karena sejauh ini volume sampah organik dan non-organik relatif sedikit. Sebab masyarakat sebagian besar memanfaatkan dua sampah ini. Non organik dijual ke pengepul dan organik dijadikan pupuk.

“Selama ini masalah terbesar ada di residu, karena itu kami harapkan jadwal pembuangan sampah residu ditambah,” ujarnya. (jay)

Back to top button