BudayaBulelengPeristiwaTerkini

Hadiri Paruman Adat Batupulu, Pj Bupati Buleleng Ajak Masyarakat Bangga Bertolerasi

BULELENG – Penjabat (Pj) Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana bersama dengan Kapolres Buleleng AKBP Ida Bagus Widwan Sutadi, Kasdim 1609/Buleleng, Kepala BKBP Buleleng dan Camat Sukasada hadiri paruman adat terkait kisruh ‘makam’ (kuburan) di Banjar Dinas Batupulu Desa Panji Anom Kecamatan Sukasada.

Tak hanya menekankan perdamaian yang telah disepakati oleh warga Banjar Adat Batupulu dengan Gereja Paroki Santo Paulus Singaraja, pada momentum penuh kekeluargaan itu juga diingatkan tentang pentingnya menjaga toleransi antar umat beragama dan bangga bertoleransi.

“Atas nama pemerintah kabupaten Buleleng saya meminta agar masyarakat menyelesaikan permasalahan ini karena ini hari baik. Saya juga mengajak agar masyarakat Buleleng untuk bangga, merasa memiliki dan menjaga, dan tentram sehingga saya sebagai penjabat bupati berupaya membangun Buleleng kearah lebih maju kedepan,” tandas Pj. Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana usai membacakan berita acara kesepakatan pemanfaatan lahan untuk pemakaman umat kristiani di Balai Banjar Adat Batupulu Desa Panji Anom, Selasa (26/3/2024).

BACA JUGA:   Mengaku Polisi Tipu Petugas Damkar Klungkung Sebut Pasar Galiran Terbakar

Kepala BKPSDM Provinsi Bali ini menegaskan, sesuai berita kesepakatan tertanggal 31 Januari 2024, perwakilan Gereja Paroki Santo Paulus Singaraja harus memenuhi tuntutan warga, meliputi ; permintaan maaf secara terbuka kepada krama banjar adat batupulu desa adat panji karena dalam proses pemanfaatan dan pembangunan kuburan belum melakukan sosialisasi menyeluruh.

“Mengadakan upacara guru piduka ditempat kuburan umat katolik sesuai kepercayaan banjar adat batupulu termasuk membuat penyengker secara niskala di tanah kuburan tersebut, upacara guru piduka dan lainya diserahka sepenuhnya kepada banjar adat batupulu baik menyangkut waktu dan tata cara pelaksanaannya. Sedangkan biaya upacara tersebut ditanggung pemerintah kabupaten Buleleng,” terangnya.

Pihak Gereja Paroki Santo Paulus Singaraja juga harus berjanji untuk tidak memperluas kuburan dan menyampaikan pemberitahuan jika ada kegiatan operasional kepada pihak banjar adat batupulu.

BACA JUGA:   36 Warga Binaan Umat Muslim Lapas Tabanan Rayakan Hari Kemenangan Dengan Suka Cita

“Intinya, kedua belah pihak harus menjaga keamanan, ketentraman, stabilitas dan toleransi antar umat beragama di Desa Panji Anom,” tegasnya.

Menyikapi penegasan tersebut, RD Agustinus Bere Lau selaku perwakilan dari Gereja Paroki Santo Paulus Singaraja menyatakan sepakat dan menyampaikan permohonan maaf atas kekeliruan yang menimbulkan ketidaknyamanan terhadap warga setempat.

“Kiranya kedepan kita bisa bersama-sama membangun komunikasi yang baik demi satu tujuan menjaga kerukunan, kedamaian di Buleleng yang kita cintai ini,” tandas Agustinus Bere diapresiasi Ketut Yasa.

Selaku Kelian Banjar Adat Batupulu, Yasa menyatakan ia bersama warga masyarakat yang hadir menyetujui keberadaan kuburan tersebut.

“Saya dan warga sudah tidak keberatan dengan adanya pekuburan itu, namun jangan dulu melakukan kegiatan. Saya akan koordinasikan dulu, jenis upacaranya apasaja, supaya tidak salah kami akan koordinasi secara internal dengan prajuru adat, tokoh agama dan warga banjar adat batupulu,” pungkasnya.(kar/jon)

Back to top button