Presidensi G20 Indonesia 2022: Jembatan Harapan Negara-Negara Berkembang

0
108
Menkominfo dalam Forum Tematik Bakohumas Menuju Presidensi G20 Indonesia 2022, “Recover Together, Recover Stronger”, di Hotel Kempinski Jakarta.
Menkominfo dalam Forum Tematik Bakohumas Menuju Presidensi G20 Indonesia 2022, “Recover Together, Recover Stronger”, di Hotel Kempinski Jakarta.

JAKARTA – Indonesia akan memegang presidensi G20 Summit di tahun 2022. Indonesia menjadi negara berkembang pertama yang menjadi presidensi atau tuan rumah G20. Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate mengatakan ada dua sukses utama sebagai presidensi G20 2022, pertama sukses dari sisi substansi dan sukses penyelenggaraan.

Dari sisi substansi materi-materi atau isu yang dibahas di G20 menyangkut isu global seperti isu energi terbarukan, perdagangan, iklim dan penanganan krisis keuangan. Presidensi G20 diharapkan mampu memberikan kebijakan dan resolusi yang positif, terutama bagi pembangunan negara-negara berkembang. Menkominfo mengatakan dunia internasional berharap banyak pada leadership presidensi G20 Indonesia untuk mendorong pemulihan global. Seperti diketahui, G20 beranggotakan negara-negara yang menguasai 85 % ekonomi dunia, 80 % investasi global, 75 % perdagangan internasional dan 66 % populasi dunia.

“Kita negara berkembang pertama sebagai tuan rumah (G20). Keketuaan (presidensi) kita (pada G20) jadi jembatan harapan bagi negara-negara berkembang di dunia. Selain sukses substansi, kita juga harus sukses sebagai penyelenggara,” kata Menkominfo dalam Forum Tematik Bakohumas Menuju Presidensi G20 Indonesia 2022, “Recover Together, Recover Stronger”, di Hotel Kempinski Jakarta, Selasa (23/11/2021).

Menkominfo melanjutkan, sebagai penyelenggara G20, Indonesia harus mengedepankan prinsip inklusifitas dan kolaborasi, khususnya dalam menyampaikan pesan komunikasi publik untuk mendukung kelancaran pelaksanaan G20. Baginya, sukses komunikasi dapat memberikan kesan yang baik bagi peserta G20 dan masyarakat luas. Indonesia, lanjutnya, harus memberikan kesan yang indah dan optimisme bagi masyarakat dunia.

“Kita butuh memberikan kenyamanan bagi para pemimpin-pemimpin dunia, untuk membawa memori indah dari Indonesia,” ujarnya.

Menkominfo mengingatkan presidensi G20 merupakan forum yang besar, amanat bangsa sekaligus kepercayaan dunia internasional yang harus dijalankan bersama.

“Pikiran-pikiran besar para pemimpin G20 harus mampu ditransmisikan dengan baik pada masyarakat. Pemilihan-pemilihan isu, diksi-diksi yang digunakan, harus memberikan gambaran yang bermuara pada kesuksesan Indonesia di G20. Pesaing utama komunikasi G20 adalah isu-isu politik. Di sinilah kejelian kanal dan pesan komunikasi pemerintah untuk mengimbangi isu-isu publik. Ini tantangan kita,” kata Menkominfo.

Sementara, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko juga mengingatkan insan humas agar presidensi G20 tidak kalah dengan isu-isu politik, mengingat Indonesia sudah mulai memasuki tahun-tahun politik menuju Pemilu 2024. Presidensi G20 Indonesia menurut Moeldoko akan menjadi legacy besar Presiden Jokowi.

“Indonesia menyanggupi untuk mengambil alih presidensi 2022 dari India, oleh karena itu kita harus menyuguhkan bahwa kita bisa menyelenggarakan presidensi G20 dengan standar tinggi,” ujar Moeldoko.

Dalam menyongsong presiden G20, salah satu poin krusial adalah menyamakan persepsi lintas humas di pusat maupun di daerah. Menkominfo menerangkan, orkestrasi kanal komunikasi publik tengah dilakukan untuk membawa gaung presidensi G20 sampai ke masyarakat dalam negeri maupun masyarakat internasional.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui Forum Tematik Bakohumas sebagai wadah harmonisasi dan koordinasi humas pemerintah lintas kementerian dan lembaga. Menkominfo menekankan, Bakohumas harus menyalurkan komunikasi yang seirama, menyampaikan isu-isu penting dan prioritas sepanjang presidensi G20 nanti.

Selain itu, Menkominfo memprediksi tahun 2022 nanti akan ramai diliputi dengan isu politik jelang Pemilu tahun 2024. Isu-isu politik menurutnya selalu menarik perhatian publik. Hal ini menjadi tantangan bagi humas pemerintah agar pesan kunci dari penyelenggaraan G20 tetap tersampaikan dengan maksimal.

Menurut Menkominfo, Bakohumas sebagai insider (orang dalam pemerintah), core element komunikasi publik, harus terkoordinasi dengan baik dalam menyampaikan informasi, karena nantinya dalam G20 akan banyak sekali isu-isu yang diangkat.

“Kita harus terkoordinasi dengan baik. Tinggalkan ego-ego sektoral. Alur komunikasi kita harus seirama, kita kerja dengan sungguh-sungguh,” ujar Menkominfo.

Senada dengan Menkominfo, Moeldoko pun menyampaikan kembali pesan Presiden Jokowi yaitu komunikasi masif di dalam negeri dan internasional untuk membangun trust pada Indonesia.

“Kita kolaborasi dalam pengelolaan isu, mitigasi isu dan krisis. Kita ingin Bakohumas sebagai ujung tombak ekosistem komunikasi, terkoordinir dan terokestrasi secara merdu,” kata Moeldoko lagi.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kemenkominfo Usman Kansong menjelaskan Forum Tematik Bakohumas Menuju Presidensi G20 Indonesia 2021 diperlukan untuk membangun persamaan persepsi lintas humas pusat dan daerah untuk menggaungkan presidensi G20. Usman mengatakan, setiap kementerian dan lembaga memiliki agenda sektoral yang perlu diharmoniskan orkestrasinya.

“Untuk itu kita perlu mengorkestrasi agenda nasional ini secara bersama-sama agar dapat berkontribusi secara maksimal, untuk mewujudkan visi utama G20. Peran humas sangat sentral, setiap kita dapat memahami urgensi strategi komunikasi publik dalam presidensi G20,” ujar Usman.

Kemenkominfo merupakan penanggung jawab bidang komunikasi dan media G20. Persiapan G20 sendiri akan kick off pada 1 Desember 2021, yang akan memberikan resonansi besar dan impact positif untuk penyelenggaraan G20 Indonesia. Untuk melalukan orkestrasi kanal dan kekuatan komunikasi publik, Usman menjelaskan pihaknya melakukan forum tematik dalam tiga jalur.

Pertama Forum Bakohumas sebagai pilar utama komunikasi publik G20. Kedua adalah forum media-media nasional untuk orkestrasi komunikasi, dan ketiga adalah forum bersama rekan-rekan media internasional, karena kepentingan G20 tidak hanya bagi Indonesia tapi juga bagi dunia. (arn,dha)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × four =