Tiga Lembaga Negara Berkolaborasi Berantas Terorisme, Korupsi, dan Narkoba

0
458
Gubernur Bali Wayan Koster foto bersama Kepala BNN, Ketua KPK, Kepala BNPT, Kapolda Bali serta perwakilan Pangdam IX/Udayana.
Gubernur Bali Wayan Koster foto bersama Kepala BNN, Ketua KPK, Kepala BNPT, Kapolda Bali serta perwakilan Pangdam IX/Udayana.

DENPASAR – Badan Narkotika Nasional (BNN), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersinergi memerangi kejahatan transnasional karena dapat berdampak buruk bagi kehidupan bangsa.

Komitmen memberantas extraordinary crime seperti narkotika, korupsi, dan terorisme itu digaungkan dalam diskusi panel diinisiasi Kepala BNN Komjen Petrus Reinhard Golose, Ketua KPK Komjen Firli Bahuri dan Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar di Gedung PRG Polda Bali, Rabu (24/11/2021).

Acara yang dilaksanakan secara blended webinar itu dihadiri Gubernur Bali Wayan Koster, Kapolda Bali Irjen Putu Jayan Danu Putra, perwakilan dari Kodam IX/Udayana serta Bupati Se-Bali. Tema yang diusung “Sinergitas Pemberantasan Narkoba, Korupsi dan Terorisme untuk Pembangunan Sumber Daya Manusia Unggul di era VUCA” (Volatility, Uncertainly, Complexity and Ambiguity).

Wayan Koster yang didaulat menjadi keynote speaker memberikan dukungan atas diselenggarakannya diskusi yang mensinergikan pemberantasan narkoba, korupsi dan terorisme. Kolaborasi antara BNN, KPK dan BNPT yang kali pertama kali digelar di Indonesia dengan memilih tempat di Bali diharapkan bisa diteruskan ke daerah lainnya.

Koster menegaskan, narkoba saat ini sudah masuk ke pelosok desa terpencil dan terjadi kenaikkan kasus selama pandemi. Ia menyebut Indonesia tak hanya jadi tempat transit dan konsumen semata, tapi sudah menjadi produsen.

“Penyalahgunaan narkoba tidak hanya berpotensi merusak masa depan generasi muda, tapi telah menjadi sumber maraknya tindakan kriminal hingga dapat menjadi faktor penghambat pembangunan nasional,” tegasnya.

Terkait korupsi, Koster menyampaikan, tingginya kasus rasuah dapat menimbulkan degradasi moral sekaligus kerugian negara yang nilainya tidak sedikit.

“Hal tersebut ditunjukkan dengan kerugian negara mencapai Rp 56,7 triliun dan kasus suap mencapai Rp 322 miliar. Jumlah ini setara dengan 3.000 (bangunan,red) puskesmas dan 1.750 sekolah dasar,” katanya.

Mantan Anggota DPR-RI tiga Periode itu juga menanggapi masalah terorisme yang menjadi ancaman hingga dapat menimbulkan rasa tidak aman dan nyaman karena menebar ketakutan dan lebih jauh lagi dapat mengancam ideologi negara, menurunkan pertumbuhan ekonomi dan kerusakan nyata lainnya.

“Untuk itu, kegiatan hari ini diharapkan tidak hanya mampu menurunkandampak terorisme, tapi juga bisa memperkuat sinergi bersama antara BNN, KPK dan BNPT. Yang terpenting, hal ini sangat bermakna untuk mendukung pembangunan Bali dan Indonesia pada umumnya,” harapnya.

Sementara, Komjen Petrus Reinhard Golose menyampaikan, Indonesia merupakan pasar potensial peredaran gelap narkoba dengan persentase pengguna mencapai 1.8 persen atau setara dengan 3.4 juta orang. Ia menyebutkan, 80 persen narkoba masuk melewati jalur laut yang sulit dideteksi.

Para pengedar narkoba sering menggunakan infratruktur dan rute untuk penyelundupan barang terlarang dengan berbagai modus operandi. Begitu juga koruptor melintasi perbatasan termasuk melakukan money laundry untuk meraup keuntungan.

“Kita tidak bisa melacak melalui google karena mereka menggunakan URL dan IP Adress dengan keamanan dan kerahasian tinggi,”sebutnya.

Ia menegaskan, sinergitas BNN, KPK dan BNPT merupakan komitmen bersama dalam mengimplementasikan terutama dalam bidang pencegahan.

“Kita sudah mengetahui bersama bahaya narkotika, korupsi dan terorisme, tapi langkah kongkrit yang kita nyatakan adalah bahwa kita bisa berkerja sama untuk pencegahan,”ujar jenderal bintang tiga asal Manado ini.

Golose menyebutkan, pengguna narkotika di Indonesia cenderung lebih banyak pria dibandingkan perempuan. Paket yang masuk dari berbagai negara. Bahkan, khusus narkotika jenis ganja di beberapa negara sudah dilegalkan. “Sekarang saya ingin tanya sekaligus survei siapa yang ingin melegalkan ganja ?,”tanya Golose.

Tak satupun peserta maupun pejabat daerah yang hadir menyetujui ganja dilegalkan. “Tidak jenderal,”jawab Bupati Gianyar Made Agus Mahayastra.

“Di Bali tidak ada yang setuju ganja dilegalkan. Bayangkan kalau kita pulang ke rumah melihat anak atau cucu lagi hisap ganja,”ucap Golose.

Golose berharap nantinya menjadi embrio mengirimkan pesan ke seluruh wilayah Indonesia bahkan dunia bahwa tiga institusi pilar bangsa pembantu Presiden menyatakan perang terhadap pelaku narkotika, meminimalisir korupsi, serta terorisme, radikalisme dan intoleransi.

“Dari sini (Bali) kita menyebarkan pesan kepada semua, generasi muda, bandar narkoba, pelaku teror dan koruptor,”tegas mantan Kapolda Bali ini.

Ketua KPK Komjen Firli Bahuri menyebut, korupsi adalah kejahatan kemanusiaan yang tidak hanya merampas hak asasi manusia,tapi juga mengancam ekonomi Bangsa. “Setiap anak bangsa harus berperan menurunkan angka korupsi. Semua anak bangsa harus menjadi pelaku sejarah pemberantsan korupsi,” ujarnya.

Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar yang menjadi pembicara terakhir menyebut ideologi sesat terorisme menghalalkan kekerasan sebagai jalan untuk mencapai tujuan serta menjadi sebuah ideologi yang anti demokrasi, anti kemanusiaan dan sangat intoleran. Menjadi semakin berbahaya ketika ideologi terorisme dan radikalisme yang berasal dari luar tersebut dipaksakan masuk ke Indonesia dengan memasukan narasi-narasi serta teks agama yang menjadikannya sangat mungkin terdoktrin pada masyarakat awam.

“Tujuan teroris adalah menghancurkan negara. Saya mengajak generasi muda dan Kita semua untuk terus mensosialisasikan, mengajarkan bagaimana sejarah bangsa kita. Empat konsensus negara kita yang kita sepakati bersama tidak boleh diganggu oleh ideologi lain,” tegas mantan Kadiv Humas Polri ini.

Di akhir diskusi, Gubernur Bali Wayan Koster menyerahkan cenderamata berupa kain tenun endek Bali kepada Komjen Petrus Reinhard Golose, Komjen Firli Bahuri, dan Komjen. Boy Rafli Amar. (arn,dum)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five − 2 =