Pandemi Sempat Vakum, Atraksi Mekapung Lampit Kembali Dihelat Di Subak Peh Kaja, Jembrana

0
323
Tradisi Mekepung Lampit di Kaliakah, Jembrana kembali dihidupkan

JEMBRANA- Perhelatan atraksi makepung lampit, kembali dilangsungkan di persubakan Peh Kaja, Desa  Kaliakah, Kecamatan Negara, MInggu 17 Oktober 2021. Atraksi makepung lampit atau sering disebut  makepung betenan (di sawah), dilakukan komunitas lampit yang masih bertahan di desa tersebut. 

Menurut Nengah Tangkas, tradisi makepung lampit sudah diwariskan sejak dulu oleh tetua di desanya.
“Sejak kecil, saya sudah melakoni makepung lampit,” ungkap pria berusia 70 tahun ditemui di persubakan Peh Kaja .

Dituturkan Tangkas, cikal bakal adanya makepung lampit, berawal ketika musim turun atau tanam disawah tiba. Untuk keperluan mengolah  sawah, para petani di sini, saling kedeng (saling tarik) sesama petani,  bergotong royong dalam membajak sawahnya. 

“Nah dari proses pengolahan tanah, mulai membajak, dilanjutkan proses melasah/ngelampit, sebelum ditanami padi,” katanya.

Diprose melasah atau ngelampit inilah, dilakukan berbarengan. Saking ramainya pemilik kerbau terlibat  disawah, mareka kemudian saling adu cepat dalam menyelesaikan tanah garapan.

“Ngelampit mengunakan sepasang kerbau dan seperangkat lampit, mereka saling  berlomba  menyelesaikan  tanah biar nantinya bisa ditanami padi,” tuturnya.

Dikatakan pria yang juga ikut pengiat lampit.

“Dulunya yang namanya ngedengan, tidak hanya petani di desanya, saja. Bahkan sampai keluar desa seperti di subak Biluh Poh, Mendoyo, termasuk di subak Sangkar Agung, Jembrana. Pokoknya saling  bergantian saling kedengan, dimana ada subak turun disana ikut ngelampit,” tuturnya lagi.

Didesanya kini masih tersisa sekitar 10 KK pengiat makepung lampit.

“Seiring waktu memang jumlahnya sudah  menurun, di desanya di Kaliakah yang masih tetap bertahan ada 10 KK,” ungkapnya . 

Sehabis ngelampit kemudian berbarenganan pula mendapat penguun atau upah. Bukan upah uang, melainkan makanan yang disediakan siempuya tanah. Menunya  mulai nasi lauk lawar  klungah, hingga  suguhan kopi dan jajan ketela, ubi atau jajan kukus.

“Di sana nikmatnya bisa makan bareng dan berkumpul sesama petani, walau tanpa upah uang,” tukasnya.

Terkait  atraksi makepung lampit diipersubakan Peh Kaja  Desa Kaliakah, memang bukan agenda Dinas. Namun menjadi  salah satu atraksi  binaan di bawah  Dinas Pariwisata Kebudayaan (Parbud) Jembrana.  Digelarnya  even makepung lampit ini, melalui inisiatif komonitas  lampit yang ada didesa Kaliakah.  Memang pandemi yang sudah berlangsung hampir dua tahun  atraksi  ini sempat  vakum.

“Perhelatan atraksi makepung lampit kali ini, disaat sudah mulai dilongarkan PPKM level  III, serta  dibukanya  kepariwisataan. Pelaksananya tetap kami adakan pengawasan selaku pembina,” terang Plt  Kadis Parbud Jembrana AA Mahadikara Sadaka, melalui Kabid Pariwisata Komang Gede Hendra Susanta.

Kegiatan ini akan dipromosikan lagi untuk wisatawan. Memang even ini, masih  dilalukan kalangan komunitas, antusias peminatnya kebanyakan dari kalangan potografer. 

“Secara umum memang peminat atraksi makepung ini, didominasi kalangan potografer. Nantinya perlu diinventarisir ulang, apa saja atraksi kita yang memang bisa mendatangkan wisatawan. Nah ini, salah satunya makepung lampit, kebetulan ada komunitas yang memang getol dari awal mengerakan, hari ini mencoba lagi melaksanakan even,” sebutnya.

Diakui Hendra Susanta, di situasi normal, Dinas Parbud sendiri, sudah punya agenda khusus setiap  tahun untuk kegiatan atraksi makepung lampit, kegiatan difasilitasi Pemkab. Pelaksanaan evennya biasanya digelar di bulan November. Berhubung situasi pandemi sudah  hampir dua tahun, even makepung lampit tidak bisa terlaksana. “Harapan kedepan, pendemi segera berlalu, pariwisata bisa normal dan wisatawan  bisa berkunjung dan tentunya dapat memberikan manfaat  positif bagi masyarakat dan daerah,” pungkasnya. (ara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × 1 =