Sidang Perdana, Zaenal Tayeb Didakwa Langgar Dua Pasal

0
204
Zaenal Tayeb didampingi penasihat hukum mendengar pembacaan dakwaan JPU dari ruang penyidik Polres Badung. (foto/dok)
Zaenal Tayeb didampingi penasihat hukum mendengar pembacaan dakwaan JPU dari ruang penyidik Polres Badung. (foto/dok)

DENPASAR – Pengusaha Zaenal Tayeb menjalani sidang perdana secara daring, Kamis 16 September 2021. Mantan promotor tinju asal Makassar itu diadili atas perkara tindak pidana menyuruh memasukkan keterangan palsu ke dalam akta autentik.

Sidang dipimpin Ketua Majelis Hakim, I Wayan Yasa dan Hakim Anggota, Kony Hartanto dan AA Aripathi Nawaksara di Pengadilan Negeri Denpasar. Zaenal Tayeb didampingi penasihat hukum mendengar pembacaan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari ruang penyidik Satreskrim Polres Badung.

JPU Imam Ramdhoni dari Kejari Badung menyampaikan, terdakwa dijerat Pasal 266 ayat (1) pada dakwaan pertama dan Pasal 378 ayat (1) pada dakwaan kedua. Kasusnya bermula adanya kerja sama antara Zaenal Tayeb dengan Hedar Giacomo terkait pembangunan vila di atas lahan seluas 13.700 M2. “Pada pertemuan 25 September 2017, terdakwa menyampaikan kepada saksi Hedar bahwa ia akan menjual tanah seluas keseluruhan 13.700 M² dengan harga Rp 4,5 juta per meter dan akan menjadi salah satu klausul dalam perjanjian kerja sama pembangunan dan penjualan,” kata jaksa Imam Ramdhoni.

BACA JUGA:   Tuban Konsisten Bantu Ringankan Beban Krama Melalui Sembako

Saksi Hedar menyetujui dan menyanggupi untuk membayar tanah milik terdakwa. Selanjutnya, mantan promotor tinju internasional itu memerintahkan saksi Yuri Pranatomo (divonis bebas) untuk membuat draft berdasarkan hasil pertemuan dengan Hedar yang akan diajukan ke notaris Bruno Fransiscus Hary Prastawa untuk dibuatkan akta. “Draft yang dibuat berisi bahwa terdakwa selaku pihak pertama dan saksi Hedar selaku pihak kedua sepakat untuk membuat perjanjian kerja sama pembangunan dan penjualan,” bebernya.

Objek kerja sama adalah 8 Sertifikat Hak Milik (SHM) yang seluruhnya atas nama terdakwa dengan luas total 13.700 M². Harga dan nilai kerja sama Rp 4,5 juta per meter persegi sehingga total pembayaran dari saksi Hedar kepada terdakwa Rp 61,6 miliar lebih. Namun, setelah dicek ke lokasi, 8 Sertifikat SHM yang disebut seluas 13.700 M² itu hanya memiliki luas 8.892 M². “Pembayaran atas harga keseluruhan kerjasama dibayar oleh saksi Hedar dengan 11 kali termin pembayaran dan Hedar mengalami kerugian sekitar Rp 21,6 miliar,” ucap jaksa.

BACA JUGA:   Kisah Kades Bedulu Berjuang Melawan Covid-19, Alami Gangguan Penciuman dan Perasa, Terapi Arak Selama Karantina

Menanggapi dakwaan jaksa, Mila Tayeb selaku penasihat hukum Zainal Tayeb akan mengajukan eksepsi atau nota keberatan pasa sidang lanjutan Selasa depan.

Sementara, kuasa hukum Hedar, Bernadi angkat bicara terkait pernyataan salah satu penasihat hukum Zaenal Tayeb yang menyebut kliennya sebagai mafia tanah. “Pertanyaannya, apakah oknum pengacara itu bisa membuktikan ucapannya?. Hari ini sudah dilaksanakan sidang Perdana di PN Denpasar dan kliennya menjadi terdakwa dalam perkara tanah yang telah merugikan klien kami. Jadi publik bisa menilai siapa sebenarnya mafia tanah,”tegas Bernadi tanpa menyebut identitas pengacara yang menuding kliennya sebagai madia tanah.

BACA JUGA:   Hasil Seleksi Voli Badung Didominasi Pemain Anyar

Pihaknya akan melaporkan penasihat hukum terdakwa Zainal Tayeb ke dewan kehormatan Peradi karena dinilai sudah memfitnah kliennya. “Kami akan lapor dia ke Peradi. Kami menunggu permintaan maaf dari penasihat hukum terdakwa yang telah mengatakan klien kami mafia tanah. Apabila dia berpendapat lain, kami akan menempuh jalur hukum,” tandasnya. (dum)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

15 − 5 =