Buka Pariwisata Bali, Semua Komponen Wajib Terapkan Prokes

0
232
Diskusi pariwisata, Kresna Budi dorong dibukanya Destinasi Pariwisata Bali Berbasis Prokes CHSE

BULELENG – Membuka sektor pariwisata, khususnya Pariwisata Bali, harus segera dilakukan. Syaratnya, tak hanya cukup bermodal keberanian. Untuk membuka destinasi terbaik dunia ini, juga dibutuhkan kesiapan dan strategi sesuai kondisi kekinian, salah satunya Pandemi Covid-19. Selain komitmen dan kesadaran bersama terkait penerapan protokol kesehatan (prokes) sebagai adaptasi tatanan kehidupan era baru membuka destinasi pariwisata Bali juga harus dengan strategi cerdas.

“Selain keberanian pemimpin, pemahaman serta komitmen bersama semua pihak untuk menerapkan prokes, 3M bagi masyarakat, 3T oleh pemerintah merupakan syarat utama atau wajib untuk membuka destinasi pariwisata Bali,” tandas Ketua Komisi II DPRD Provinsi Bali, IGK Kresna Budi, Selasa, 13 April 2021 usai diskusi pariwisata di Gria Taman Liligundi.

Menurut Ketua DPD Partai Golkar Buleleng ini, dari diskusi juga terungkap pandemi menjadi wahana Covid-19 mengingatkan, keberanian pemimpin dalam pengambilan keputusan harus dilandasi kajian, strategi dan memperhatikan kondisi kekinian baik lokal, regional maupun global.

“Pademi Covid-19 saat ini masih terjadi namun beberapa negara seperti Inggris dan Taiwan sudah mereda dan bersiap untuk membuka hubungan luar negeri termasuk pariwisata. Peluang ini tentu harus disikapi dengan melakukan pendekatan bahkan kerjasama Government to Govermment atau G to G bidang pariwisata,” ungkapnya.

Dengan adanya G to G, pemerintah dan komponen pariwisata Bali harus menyiapkan destinasi pariwisata dengan prokes berbasis CHSE yakni Cleanness (kebersihan), Health (kesehatan), Safty (keamanan) dan Environment (ramah lingkungan).

‘Rebound’ (pembukaan,red) Destinasi Pariwisata Bali, kata Kresna Budi juga harus dilakukan bertahap, mulai dari kawasan ITDC Nusa Dua.”Disamping dekat Bandara Ngurah Rai, ITDC Nusa Dua dengan kapasitas 10.000 kamar juga memiliki satu pintu kawasan, sehingga mempermudah pengawasan penerapan prokes. Hal ini juga menunjukkan komitmen kita dalam memberikan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan,” tandasnya. Selain sarana prasarana, komitmen untuk memberi jaminan kesehatan bagi wisatawan juga bisa dalam bentuk asuransi kesehatan dengan nilai Rp 1 Juta/orang.

“Asuransi kesehatan ini merupakan salah satu bentuk layanan dari Health Torism, disampingi meningkatkan kepercayaan wisman untuk berwisata ke Bali, layanan asuransi kesehatan wisatawan juga merupakan sumber pendapatan terbarukan bagi negara termasuk pendapatan daerah Provinsi Bali dari sektor pariwisata,” pungkasnya.(kar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here