“Blind In Paradise”, Performance Art Made Surya Darma di Kolam Renang Griya Santrian

0
323
Performance Art Made Surya Darma di kolam renang Griya Santrian, Sanur.

DENPASAR – Pameran seni rupa bertajuk “Sip Setiap Saat” di Griya Santrian Hotel Sanur menampilkan beragam karya. Selain lukisan, sejumlah perupa juga menyuguhkan performance art, Rabu (6/1/2020) sore.

Salah satunya pelukis I Gede Made Surya Darma. Alumnus ISI Yogyakarta ini memajang karya berjudul “Pedanda Baka”, serta menampilkan performance art ” Blind In Paradise” di kolam renang Griya Santrian Hotel. Karyanya tersebut merespons situasi pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Ia menampilkan kembali karya performance art yang pernah dibuat di Museum Nasional Bangalore, India, 11-25 November 2011 dalam sebuah Festival Performance art International “ DAWN-DUSK LIVE ART 2011”. Karya ini dikolaborasikan dengan lukisannya  berjudul Pedanda Baka dikarenakan adanya kedekatan konsep. Dipilihnya kolam renang sebagai tempat performance art karena “kejadiannya” sama-sama dalam air.

Dalam pentas seni ini, Surya Darma berkolaborasi dengan musisi DJ Kamau Abayomi dari California America, seorang dalang wayang kulit dari Sanggar Seni Kembang Bali, I Putu Purwwangsa Nagara (Wawan Bracuk ), D Jimmy Tedjalaksana (musisien dan founder Virama Music studio ) dan seniman I Kadek Dedy Sumantra Yasa. Surya Darma menutupi kolam renang dengan berbagai macam bunga sebagai simbol dari paradise itu sendiri atau keindahan kehidupan duniawi. Sedangkan lukisan Pedanda Baka dibiarkan menggambang di antara taburan bunga dalam kolam renang. Itu mengandung makna bahwa kearifan lokal atau cerita rakyat seperti Pedanda Baka banyak mengandung pesan moral yang bisa dijadikan sesuluh hidup. Di sisi lain, Surya Darma menebarkan print di atas kertas mengenai sejarah virus yang melanda dunia dan dampak yang ditimbulkan–merekonstruksi sejarah virus, sebagai perenungan untuk selalu waspada.

Dalam garapan seni itu, Surya Darma mengawali dengan melantunkan tembang Alas Arum. Tembang ini biasanya dinyanyikan dalang sebelum pementasan cerita pewayangan. Surya Darma memaknai itu sebagai simbol bahwa Tuhan dalam menciptakan alam, diawali getaran atau alunan suara indah yaitu AUM atau OM. Surya Darma mencoba merefleksikan proses penciptaan alam itu dengan melantunkan tembang dan direspons alunan suara gender, gitar, Dj, musik Didgeridoo dan jimbe. Selanjutnya Surya Darma menaburkan bunga ke dalam kolam renang, sebagai simbol makrokosmos. Lukisan Pedanda Baka yang diambangkan di air itu sebagai simbol tatwa dari kearifan cerita Tantri itu sendiri.

“Saya mengambang di permukaan air dengan tebaran bunga dan kertas yang diprint tentang sejarah virus melanda dunia. Mata saya ditutup sebagai simbol bahwa tidak bisa jelas melihat mana yang benar mana yang salah. Seolah-olah buta dalam kegemerlapan kehidupan duniawi. Dengan adanya situasi dunia yang tidak menentu tersebutlah, saya ingin mengajak audience untuk memaknai kembali kearifan lokal dari cerita tradisional Pedanda Baka, maupun cerita rakyat lokal lainnya, sebagai sesuluh hidup pada era kekinian, ” ujarnya.

Jean Couteu, budayawan dan penulis memberi respon positif atas performing Surya Darma dalam pameran ini. Ia menyebut sajian ini menarik, menandakan telah terjadi tranformasi penerusan seni rupa. ” Bagaimana teman -teman Bali memaknai garis, penuh memori dan garis inovatif membicarakan masalah sosial. Saya senang melihat perkembangan seni rupa di Bali,” ucapnya.

Ia yakin pertunjukan seni kontemporere ini memberi makna tersendiri saat ini. ” Saya yakin performing akan mempunyai satu makna, dimana Surya Darma selalu peka terkait kontemporer,” katanya. (sur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here