Bangun Petunon Universal, Ini Harapan Desa Adat Buleleng

0
101
Petunon Setra Desa Adat Buleleng diresmikan, Jro Tony berharap dapat bermanfaat secara universal

BULELENG-Pembangunan ‘Petunon’ atau ‘Krematorium’ (tempat kremasi janasah,red) oleh Prajuru Desa Adat/ Pakraman Buleleng, tak hanya menjawab harapan Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana. Selain meringankan beban krama dalam melaksanakan ritual upacara yadnya, Prajuru Desa Adat/Pakraman Buleleng juga berharap ‘Petunon’ Universal yang dibangun pada areal Setra Desa Adat/Pakraman Buleleng ini dapat dimanfaatkan oleh krama dari luar desa adat, termasuk warga masyarakat dari umat lain, bahkan warga negara asing (WNA).

“Ini (Petunon,red) kami buat universal, untuk menjawab kebutuhan krama dalam melaksanakan yadnya yang tidak memberatkan dari segi pembiayaan, sekaligus masyarakat umum untuk pelayanan perabuan jenasah,” tandas Jro Mangku Made Dharma Tanaya, Rabu (29/12/2020) disela-sela peresmian ‘Petunon’ Desa Adat Buleleng.

Sebagai Prajuru Suka Duka Krama sekaligus Jro Mangku Dalem Desa Pakaraman Buleleng, Dharma Tanaya menyatakan keberadaaan ‘Petunon’ pada lahan seluas 600 dari 1.200 M2 lahan Setra Desa Adat Buleleng ini di bangun sesuai kebutuhan krama dari segala klane.

“Dalam pengelolaannya, memang untuk meringankan beban biaya krama dalam melaksanakan yadnya. Kami hanya menyediakan tempat kremasi, ritual upacaranya diatur berdasarkan dresta masing-masing klane, sesuai hasil pembahasan bersama yang telah dilakukan. Pengelolaan tempat ini dilakukan sangat terbuka, namun tetap mengacu pada awig-awig yang ada,” tegasnya.

Petunon ini, juga bersifat universal, tidak hanya untuk Krama Desa Adat Buleleng, tapi juga krama dari desa adat/pakraman lain, warga masyarakat dari umat lain, bahkan WNA yang membutuhkan pelayanan kremasi jenasah.

Tata kelola dari masing-masing layanan, menurut Dharma Tanaya yang akrab disapa Jro Tony ini sudah dibuat berdasarkan awig-awig maupun prerarem.

“Sesuai awig-awig, pelayanannya diatur sebagai krama negak, lattan dan tamiu. Krama atau umat dari luar desa adat, tentu pelayanannya beda dengan krama negak dan lattan, harus mengikuti awig atau prerarem yang ada, termasuk warga negara asing. Yang terpenting, Petunon ini dibangun untuk dapat membantu serta bermanfaat bagi krama dan warga masyarakat Buleleng,” tegasnya.

Dengan adanya Petunon ini, biaya pelaksanaan upacara yadnya seperti ngaben dapat ditekan seminimal mungkin.

“Berdasarkan hasil parumaan panitia dengan pembuat banten, itu biaya ngaben sampai tuntas itu maksimal Rp 17 juta dan kami terus berupaya untuk mendapatkan biaya teringan pelaksanaan upacara bagi krama,” tegasnya.(kar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here