Karya Instalasi “Pandora Paradise” Direspon Seniman, Penyair, hingga Koreografer

0
133
DIBAL RANUH- Pementasan seni kontemporer merespon karya Ketut Putrayasa. Foto/istimewa.

DENPASAR – Sejak dipasang 15 Desember 2020, seni instalasi di titik nol km Kota Denpasar bertajuk “Pandora Paradise” direspon sejumlah seniman, penyair, hingga koreografer. Seni instalasi karya seniman Bali I Ketut Putrayasa itu dibedah lewat puisi yang membumi dan tarian kontemporer dibawakan spesial merespon Pandora Paradise.

Penyair I Wayan Jengki dengan sajak – sajak mereka membadankan puisi menjadi karya trimatra dan sejarah masa depan yang saling melengkapi. Penari Jasmin Okuba, seorang koreografer juga unjuk kebolehan dalam merespon seni instalasi karya Putrayasa. Warna psychedelic pada bambu-bambu itu menenggelamkan rasa ngeri ujung bambu. Selain itu, ada seniman, penulis, fotografer yang memberi tanggapan dan respon karya yang dipajang depan Monumen Patung Puputan Badung tersebut. “Karya seni ini merupakan penanda awal dari serangkaian proyek seni rupa Kuta Sunrise Project Art 2021 yang digelar pada 15 Agustus 2021 mendatang di Discovery Shopping Mall,” kata Putrayasa saat ditemui di Lapangan Puputan Badung, Minggu (27/12/2020).

Dikatakannya, instalasi yang menggunakan akrilik dan bambu sintetis ini rencananya dipajang hingga 5 Januari 2021 mendatang.” Terima kasih para sahabat yang telah merespon karya “instalasi pandora paradise ” ini. Ada penyair, fotografer, dan penari, ” ujarnya.

Dari respon mereka, karya ini lebih mengedukasi menggugah sebuah pengetahuan baru yang hadir dan berbeda dengan karya konvensional lainya. Dari visual dan isu sangat sinkron dengan keadaan ini. ” Justru karya ini direspon muncul warna baru,” jelasnya.

Sementara itu, mengenai kekaryaan, Ketut Putrayasa menjelaskan, bentuk dari instalasi ini yakni terdiri atas 5 kotak dari akrilik, serta bambu sintetis berwarna merah, putih, kuning, hijau, orange, maupun warna emas. Sang seniman mengaku, pembuatan instalasi ini dikerjakan bersama 20 orang pekerja.“Pembuatan instalasi ini memakan waktu 20 hari yang digarap oleh 20 orang,” ucap Putrayasa.

Selain di titik nol km Kota Denpasar, pihaknya juga akan memasang hal instalasi di 8 kabupaten yang dilakukan setiap tanggal 15 bulan berjalan secara bergantian dengan arah berlawanan jarum jam.“15 Januari 2021 akan dipasang di Gianyar, lalu di Klungkung, Karangasem, Bangli, Buleleng, Jembrana, Tabanan, dan puncaknya di Kuta, sehingga berlawanan arah jarum jam,” ungkapnya.

Kegiatan yang dipusatkan di Kuta tersebut akan menghadirkan instalasi matahari dengan sentuhan teknologi sehingga seolah-olah matahari terbit di Kuta, Badung. Putrayasa mengaku pembuatan instalasi Pandora Paradise ini juga berkaitan dengan Covid-19.“Kotak pandora itu kan kotak yang menyimpan keburukan manusia, termasuk penyakit. Kotak itu tertembus bambu, artinya terbuka, dan ada satu kotak yang belum tertembus bambu adalah kotak harapan,” ujarnya.

Kotak harapan tersebut merupakan harapan yang menyelamatkan manusia setelah pandemi Covid-19. Ia menambahkan, inspirasi karya seni instalasi ini datang dari mitologi Yunani, tentang sebuah kotak istimewa yang kemudian hari menjadi sebab datangnya malapetaka. “Karya seni instalasi Pandora Paradise merupakan tafsir bebas atas mitologi Kotak Pandora itu. Kata ‘paradise’ tentu sebuah metafora, ia sebuah perumpamaan, sebagai imaji ruang dengan dalil matematik, dimana segala hal bisa dihitung, diketahui, dan dijelajahi,” imbuhnya.(sur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here