Apresiasi ‘Petunon’ Desa Adat Buleleng, Pelayanan Harus Lebih Maksimal

0
152
Audensi Prajuru Desa Adat Buleleng dengan Bupati terkait peresmian Petunon di Setra Desa Adat Buleleng

BULELENG – Pembangunan ‘Petunon’ atau ‘Krematorium’ (tempat kremasi janasah,red) di Setra Desa Adat/ Pakraman Buleleng, mendapat apresiasi positif Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana. Selain mengapresiasi pembangunan Krematorium sebagai inovasi kreatif Prajuru Desa Adat/Pakraman Buleleng dalam memberikan pelayanan lebih maksimal kepada krama (masyarakat adat. Keberadaan Krematorium juga diharapkan dapat meringankan beban krama.

“Saya apresiasi upaya prajuru desa adat dalam memberikan pelayanan kepada warga masyarakat, namun saya meminta kepada pihak yang akan mengelola petunon untuk bisa meringankan beban masyarakat, khususnya umat Hindu di Buleleng,” tandas Bupati Suradnyana, Minggu (27/12/2020).

Bupati Suradnyana juga berharap, tempat kremasi yang akan di plaspas (ritual upacara peresmian gedung,red) Senin (28/12/2020) memang disiapkan untuk warga masyarakat, khususnya masyarakat adat di Desa Pakraman Buleleng.

BACA JUGA:   13 Tahanan Polres Klungkung Rapid Test

“Keberadaan tempat kremasi ini juga saya harapkan dapat memberi manfaat besar bagi Umat Hindu di Buleleng, bisa meringankan beban umat baik dari segi harga dan fasilitas serangkaian dengan pelaksanaan dari yadnya, sehingga masyarakat merasakan sangat dibantu,” tegasnya.

Karena sekarang ini, zaman sudah berubah sesuai dengan keperluan dan kepentingan masyarakat.

“Sepanjang membantu umat, sepanjang itu manfaatnya banyak bagi umat, saya sangat setuju. Karena banyak yang dipermudah dan banyak yang dibantu meringankan beban, seperti sekarang ini biaya upakara (sarana ritual upacara) sangat mahal,” tukasnya.

Dengan keberadaan Petunon ini, kata Suradnyana, juga diharapkan dapat memperingan biaya pelaksanaan ritual upacara tanpa mengurangi nilai filosofis makna dari pelaksanaan ritual upacara yang dilakukan.

BACA JUGA:   Kenakan Rompi Oranye dan Tangan Diborgol, Oknum Sulinggih Diduga Cabul Ditahan

“Pihak yang akan mengelola petunon, jangan pernah mengurangi arti dan makna dari upakara,” tegasnya.

Mengingat, saat ini masih ada perbedaan pandangan di masyatrakat.

“Lakukan sosialisasi agar tidak terjadi perbedaan persepsi di masyarakat. Selama makna dan artinya tetap sama, adanya petunon ini pasti akan sangat membantu dan sangat meringankan beban masyarakat,” ujarnya.

Disamping itu, hal ini (kremasi,red) merupakan sebuah pilihan krama dalam pelaksanaan perabuan jenasah.

“Namun pemandangan kita saja yang berbeda. Jadi harus perbanyak sosialisasi. Kalau bisa lebih ringan lagi (dari sisi harga). Itu lebih baik,” tandas Suradnyana serius.

Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna menandaskan, ‘petunon’ merupakan tempat kremasi yang dibangun Desa Adat/Pakraman Buleleng untuk umum, bukan hanya untuk Krama Desa Adat Buleleng saja.

BACA JUGA:   Nama Bupati Gianyar Dicatut, Pelaku Chatting Mau Serahkan Uang ke Yayasan

“Bangunan ini (Petunon,red) bukan hanya untuk krama Desa Adat/Pakraman Buleleng, melainkan untuk semua masyarakat yang ingin melaksanakan upacara yadnya disini. Hanya saja kalau di luar masyarakat Buleleng biayanya lebih mahal,” tandas Sutrisna. (kar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × 3 =