BI Lima Kali Turunkan Suku Bunga

0
51
Rizki Ernadi Wimanda selaku Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali, memaparkan kondisi ekonomi Bali.

DENPASAR – Bank Indonesia menurunkan suku bunga kebijakan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 3,75%. Begitu juga suku bunga Depocit Facility dan suku bunga Lending Facility juga diturunkan di angka 3,00% dan 4,50%.

” BI telah lima kali menurunkan suku bunga, mulai Februari, Maret, Juni, Juli, dan November 2020 dengan total penurunan suku bunga sebesar 125 bps”, ujar Deputi Kepala Perwakilan  Bank Indonesia Provinsi Bali Rizki Ernadi Wimanda kepada wartawan, Selasa (24/11/2020).

Keputusan itu mempertimbangkan prakiraan inflasi yang tetap rendah, stabilitas eksternal yang terjaga, dan sebagai langkah lanjutan untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional. Bank Indonesia tetap berkomitmen untuk mendukung penyediaan likuiditas, termasuk dukungan kepada pemerintah dalam mempercepat realisasi APBN tahun 2020.

Beberapa dukungan Bank Indonesia dalam mempercepat realisasi APBN yaitu  melalui pembelian SBN di pasar perdana. Sampai dengan 17 November 2020,  Bank Indonesia membeli sebesar Rp72,49 triliun, termasuk dengan skema lelang utama, Greenshoe Option (GSO) dan Private Placement.

BI juga telah merealisasikan pendanaan dan pembagian beban dengan Pemerintah untuk pendanaan Public Goods dalam APBN melalui mekanisme pembelian SBN secara langsung sejumlah Rp 270,03 triliun serta pembagian beban untuk pendanaan Non Public Goods – UMKM sebesar Rp114,81 triliun.

Sementara, terkait langkah-langkah kebijakan Bank Indonesia. Pertama, melanjutkan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan dengan fundamental dan mekanisme pasar. Kedua, memperkuat strategi operasi moneter untuk mendukung stance kebijakan moneter akomodatif. Ketiga, mempercepat pengembangan pasar valas domestik melalui penguatan pasar Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) untuk meningkatkan likuiditas dan mendorong pendalaman pasar keuangan sebagai implementasi Blueprint Pengembangan Pasar Uang (BPPU) 2025.

Keempat, melanjutkan kebijakan makroprudensial akomodatif dari sisi rasio Countercyclical Buffer (CCB). Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM), rasio Penyangga LIkuiditas Makroprudensial (PLM) dan rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV). Kelima, memperkuat kebijakan makroprudensial untuk mendorong pembiayaan inklusif, khususnya kepada UMKM. Keenam, memperkuat digitalisasi sistem pembayaran untuk mendorong momentum pemulihan ekonomi melalui berbagai inisiatif transformasi digital. Terakhir, mendukung pemulihan ekonomi melalui kebijakan sistem pembayaran. (sur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here