Balawan-Eko Supriyanto Bedah Peluang Seniman Berpenghasilan di Panggung Virtual

0
34
SARASEHAN : Gitaris Balawan dan koreografer Eko Supriyanto membedah peluang seni virtual di masa pandemi Covid-19.

DENPASAR – Gitaris I Wayan Balawan dan koreografer Eko Supriyanto membedah peluang seni virtual di masa pandemi Covid-19 dalam ajang timbang rasa Festival Bali Jani II di Taman Budaya Bali, Senin (2/11/2020).

Sarasehan mengangkat tema ” Monetisasi Seni Virtual” secara live melalui zoom meeting itu mengungkap tantangan dan peluang seniman di masa pandemi tetap eksis dan berpenghasilan. “Saya seorang penari koreografer di masa pandemi ini merasakan dampaknya. Kegiatan kreatif berkurang, teman- teman studio terimbas. Namun, saya salah satu orang beruntung masih bisa tampil di ruang bebas, pentas untuk berkreasi lewat seni virtual,” kata koreogafer yang akrab disapa Eko Pece itu.

Selama ini, Eko mengaku masih terbantu melalui kegiatan virtual yang digelar Kemendikbud maupun  lembaga lainnya. Begitupun seniman lain seperti  Sujewo Tejo yang menghadirkan karya-karya virtual dengan ticketing sehingga tetap ada peluang. “Dampak pandemi ini justru memberi ruang lebih luas untuk berkarya. Aktivitas kami semua bergeser ke virtual. Ngamen online, program Kemendikbud, kompetisi virtual. Panggung berubah saat ini tidak lagi panggung ditonton langsung, melainkan panggung virtual,” jelasnya.

Begitu pula dengan film dan tari dilombakan lewat seni virtual. Yang menarik, kata Eko,  bicara vlog dan YouTube baginya merupakan ruang pertunjukan yang memiliki peluang yang  masih bisa dikerjakan untuk mendapatkan penghasilan. ” Pertanyaannya, apa bisa kita (seniman)  menjadi vloger ?. Saat ini kesempaan untuk berpikir kesitu. Apakah tuntutan ini akan terjadi ?. Saya optimis mengarah kesana, apakah bisa seorang seniman melakukanya ?. Riilnya, seniman kita belum sepenuhnya siap, senimam tradisional, SDM nya harus dipersiapkan, dan mampu berkolaborasi dengan pihak yang paham digital, “ ungkapnya.

Satu sisi, tantangan seniman kreatif menjadi YouTuber atau vloger dituntut secara kualitas  tetap terjaga. Saat ini, tantanganya banyak sajian seni virtual tampil seadanya secara kualitas belum tercapai. ” Menurut kita bisa berkolaborasi dengan berbagai pihak yang ahli dibidangnya. Ada sinergi, orang yang ngerti digital, penata kamera, paham tentang panggung dan sebagainya,” saranya.

Eko mengaku telah mengusulkan kepada Kemenparekraf agar mengemas sebuah kegiatan seni virtual agar menjadi  sebuah produk yang berdampak langsung pada seniman. ” Dengan harapan ada wadah baru yang menaungi teman- teman seniman dalam berkarya di era baru ini,”tandasnya.

Sementara, I Wayan Balawan juga berpandangan bahwa YouTube menjadi peluang besar dalam mendapatkan uang.   Hanya, musisi yang dijuluki “The Magic Fingers” ini memberi catatan tidak mudah mencari penghasilan apabila konten yang disajikan  tidak dikemas menarik dan bagus. Apalagi, ketentuan konten YouTube minimal mendapatkan 1.000  subcriber dan 4.000 jam ditonton publik secara valid. “Dunia follower meraih subcriber tinggi resikonya hanya dua yaitu dipuji dan dihujat. Ini sama-sama mendatangkan like dan subcriber tinggi, ” kata Balawan.

Selanjutnya, ruang kreatif panggung di pentas virtual sangat berbeda. ” Meski punya karya bagus, tapi kalau judulnya ngga menarik susah juga menaikan jumlah penonton, tapi kalau judul karya yang aneh, unik, menyeramkan cepat sekali ditonton,” ucap Balawan seraya mencontohkan dirinya dalam karya Balawan memainkam delapan gitar aneh, justru cepat naik jumlah penontonya.

Terkait dengan peluang karya seni ditayangkan secara virtual sangat rentan  dengan pelanggaran hak cipta,  Balawan tak menampiknya. Menurutnya, bicara hak cipta sejatinya sudah banyak dibicarakan dan dikeluhkan rekan rekan komposer di Indonesia. ” Soal perlindungan karya, di negara kita belum punya sistem, kalau di luar negeri jelas ada, yaitu seorang publisher yang khusus ditempatkan untuk mengatur tayangan terkait hak cipta orang,” ujarnya.

Lanjut Balawan, ketika ingin meng-cover lagu, tinggal menghubung publiser.”  Nah adanya publiser inilah yang mengatur berapa persentase yang harus dibagi antara pemilik karya dengan orang yang mau mengcover karya orang lain,” tandasnya.

Kabid Kesenian dan Tenaga Kebudayaan Dinas  Kebudayan Propinsi Bali Ni Wayan Sulastriniani menambahkan, melalui seni virtual ini diharapkan pemahaman  seniman kreatif di Bali melalui seni virtual dapat ditingkatkan. ” Di masa Pandemi ini, Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan tetap konsisten memajukan dan menguatkan kebudayaan, terutama memberi ruang kepada para seniman agar tetap berkarya dengan memanfaatkan kanal youtube dan mampu mendapatkan penghasilan,” ujarnya. (sur,dum)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here