Adaptasi Sektor Usaha, Ini Dilakukan Agus Samijaya

0
72

Agus Samijaya


BULELENG – Geliat adaptasi tatanan kehidupan era baru pada masa Pandemi Covid-19, mulai bermunculan di Bumi Den Bukit. Tidak hanya sektor pariwisata, sejumlah usaha kuliner juga mulai bermunculan dengan kreasi kekinian namun tetap mengedepankan produk lokal dan terjangkau pasar.

Salah satunya, Asa Coffee & Resto Cabang Singaraja yang dibuka, Agus Samijaya, bukan sekedar usaha melainkan juga sebagai influencer, bagi kalangan enterpreuner untuk memulai inovasi dimasa Pandemi Covid-19.

“Saya ingin merubah stigma, dalam situasi pandemi dimana orang takut berusaha, takut membuat sesuatu, kemudian lebih baik diam, wait and see, dan lain sebagainya. Saya ingin mencoba, sekecil apapun, menjadi influencer, mempengarui publik khususnya kalangan enterpreuner, jangan takut melakukan inovasi dan kreasi pada masa pandemi,” tandas Agus Samijaya, Minggu (18/10/2020) malam saat lonching Asa Coffee & Resto di Jalan Ngurah Rai Singaraja.

Pembukaan usaha ditengah banyaknya perusahaan memberhentikan pekerja, kata pengacara kondang ini, juga merupakan gebrakan yang dilakukan sebelum pandemi selesai.

“Sebagai pendatang baru, kami sudah melakukan sosialisasi, merekrut tenaga kerja dan memulai usaha, bukan saat pandemi selesai baru start,” tukasnya.

Kenapa memilih Buleleng, Samijaya dengan gamblang mengatakan sesuai pengamaatan yang dilakukannya, Buleleng yang dikenal dinamis kurang tempat tongkrongan anak muda dengan kopi dan makanan yang enak, gurih tetapi harganya murah.

“Yang bisa dijangkau kaum pelajar dan lain sebagainya,” tandas Samijaya meyakinkan.

Yang terpenting, bagaimana pada masa Pandemi ini bisa berkontribusi untuk Buleleng.

“Sekecil apapapun, saya ingin berkontribusi bagi Buleleng, bisa merekrut tenaga kerja untuk kita edukasi, di didik untuk berusaha dan syukur ditahap awal ini saya sudah bisa rekrut 15-20 orang untuk kita didik sebagai pekerja,” tandasnya.

Terkait menu yang dihidangkan, Samijaya memaparkan Asa Coffee & Resto menyajikan racikan coffe dari daerah nusantara dengan harga terjangkau kantong kaum pelajar, mahasiswa dan sebagainya.

“Kemudian kita juga ingin memperkenalkan makanan tradisional, kakauman, kaum muda, surabi ini adalah ikon kita, makanan tradisional warisan leluhur kita, cuma kita kemas, dikreasi dengan toping dan inovasi lain,” tandasnya.

Setelah dicoba, makanan tradisional ini diterima oleh kalangan anak muda di Buleleng.

“Saya punya obsesi, makanan khas Buleleng ini kita creat, menjadi satu menu yang bisa diterima anak-anak muda, bukan hanya kalangan manula saja,” tandas Samijaya.

Ditambahkan, tempat yang dibukanya bisa menjadi wadah untuk diskusi, sharing informasi dan edukasi bagi semua kalangan. Bisa juga menjadi tempat diskusi yang dapat menghasilkan solusi. “Semacam Warung Coffee, Tempat Diskusi Mencari Solusi,” pungkasnya. (kar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here