Pidanakan Kelian Desa Adat Tunju, Ini Alasan Made Astawa

0
143

Kelian Adat Tunju I Ketut Arta menjalani sidang di PN Singaraja
BULELENG – Kasus pidana yang menjerat Kelian Desa Adat/Pakraman Tunju Desa Gunungsari Kecamatan Seririt, telah diproses hukum hingga pada tahap persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Singaraja. Persidangan Kelian Desa Adat Tunju, Ketut Artha oleh majelis hakim yang diketuai I Gede Karang Anggayasa bersama 2 hakim anggota Anak Agung Ngurah Budhi Dharmawan dan I Nyoman Dipa Rudiana, mendapat respon krama sehingga, Rabu (14/10/2020) ngelurug ke PN Singaraja.

Reaksi krama dan penjelasan sepihak Ketut Arta selaku terdakwa, membuat perihatin Made Astawa selaku pelapor. Selain berharap krama dan terdakwa menghomati proses hukum, melalui kuasa hukumnya, Ni Nyoman Armini, mantan Prebekel Desa Gunungsari Kecamatan Seririt ini juga menggeber alasan dan kronologis laporan pidana yang dilakukan.


Kepada Warta Balionline, Jumat (16/10/2020) siang usai mendampingi kliennya di Mapolres Buleleng, Armini mengungkapkan pernyataan Ketut Arta selaku Kelian Desa Adat Tunju Desa Gunung Sari yang terindikasi serta patut diduga menyerang kehormatan, mencemarkan nama baik serta fitnah terhadap kliennya, Made Astawa, terjadi tanggal 26 Januari 2020 pada paruman desa.”Selain menuding kliean kami pencuri dan mengklaim sebidang tanah tersebut adalah milik desa, yang bersangkutan juga menyatakan klien kami pembohong, tidak pernah menandatangani silsilah dan Sertipikat Hak Milik No. 00887 Desa Gunungsari seluas 2.130 m2 atas nama Made Astawa adalah palsu,” ungkapnya.

Ni Nyoman Armini, penasehat hukum pelapor Made Astawa.

Selain menyerang kehormatan dan mencemarkan nama baik karena diungkapkan pada paruman desa, pernyataan yang disampaikan juga patut diduga sebagai fitnah.


Terindikasi menyerang kehormatan dan mencemarkan nama baik, kata Armini karena disampaikan pada acara paruman desa atau dihadapan umum.”Saat klien kami menjelaskan sebidang tanah seluas 2.130 m2 di Banjar Dinas Puspajati Desa Gunungsari. Karena diregrouping dan tidak dimanfaatkan untuk SD No. 2 dan No. 3 Gunungsari sejak tahun 2004, maka atas persetujuan keluarga, lahan milik alm, Wayan Guniarma (kakek Made Astawa) tersebut disertipikatkan,” urainya.

Saat memberikan penjelasan itulah, yang bersangkutan menyela dan menyampaikan pernyataan tersebut serta menuding SHM No. 00887 Desa Gunungsari seluas 2.130 m2 palsu. “Pernyataan yang patut diduga menyerang kehormatan, mencemarkan nama baik dan fitnah ini, tidak hanya di sampaikan pada paruman, tapi juga ditempat umum secara berulang, sehingga klien kami mengadukan secara resmi perbuatan yang bersangkutan ke Polsek Seririt untuk diproses secara hukum,” terangnya.


Sebelumnya, Rabu (14/10/2020) puluhan krama Desa Adat Tunju Desa Gunungsari Kecamatan Seririt ngelurug ke PN Singaraja. Dikoordinir Prebekel Desa Gunungsari Kecamatan Seririt, Ketut Pastika, puluhan krama ingin menyaksikan sidang kasus pencemaran nama baik sebagaimana dituduhkan Made Astawa terhadap Kelian Desa Adat/Pakraman Tunju, Ketut Arta. Terkait masalah yang menjerat Kelian Desa Adat/Pakraman Tunju, Prebekel Pastika menyatakan sudah sempat melakukan mediasi namun gagal.

Hal senada diungkapkan Ketut Arta selaku terdakwa pada persidangan dengan majelis hakim, I Gede Karang Anggayasa selaku ketua didamping hakim anggota Anak Agung Ngurah Budhi Dharmawan dan I Nyoman Dipa Rudiana. Kelian Desa Adat Tunju ini mengaku tidak mengerti karena pernyataannya tentang pensertipikatan tanah harus dilakukan dengan benar pada paruman desa, tanggal 26 Januari 2020 justru dilaporkan sebagai pencemaran nama baik.(kar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here