Eceng Gondok Dinilai Rusak Lingkungan, Nelayan Wanasari Minta BWSBP Bertanggung Jawab

0
131
Pertemuan Pengurus Kelompok Nelayan Wanasari Tuban dengan BWSBP di Kantor Camat Kuta.

BADUNG – Kelompok Nelayan Wanasari Tuban meminta Balai Wilayah Sungai Bali Penida (BWSBP) bertanggung jawab atas serbuan eceng gondok ke area Teluk Benoa, Tuban.

Dalam pertemuan di Kantor Camat Kuta, Selasa (13/10/2020),  Ketua Kelompok Nelayan Wanasari Made Sumasa memaparkan berbagai dampak yang dialami anggotanya akibat serbuan eceng gondok, mulai dari kesulitan melaut hingga hilangnya beberapa jukung dan kano akibat putusnya tali penambat oleh beban tumpukan sampah eceng gondok.

“Di masa pandemi Covid-19 saat ini, anggota kami total menggantungkan hidupnya dari aktivitas melaut. Beda dengan sebelumnya, yang masih bisa bernafas dari sektor pariwisata. Tapi ternyata, di tengah sulitnya perekonomian sekarang ini, limbah eceng gondok seolah sengaja dilepaskan tanpa ada pertanggung jawaban apapun,” sentil Sumasa yang dalam pertemuan dengan BWSBP itu dihadiri pihak Desa Adat Tuban, Kepala Lingkungan Tuban Griya, serta Lurah Tuban.

Sumasa mengaku bingung kepada siapa harus mengadu terkait hilangnya sarana melaut nelayan akibat serbuan eceng gondok. Tak hanya itu,  perjuangan menghijaukan area hutan mangrove juga dirasa seperti tak dihargai. Padahal, itu dilakoni bukan hanya oleh kelompok nelayan tapi juga berbagai komunitas termasuk kalangan usaha hingga akademisi dari dalam maupun luar negeri.

“Mereka-mereka ini sering bertanya-tanya kenapa sampai dibiarkan ada serbuan eceng gondok yang mengganggu tumbuh kembangnya bibit mangrove. Mereka tidak terima karena apa yang sudah mereka pelihara selama ini malah hancur akibat ketidakpekaan pihak tertentu terhadap lingkungan. Apalagi, mereka tahu bahwa itu bersumber dari alur sungai yang sudah tertata dengan sangat megah,” beber Sumasa didampingi  Sekretaris Kelompok Nelayan Agus Diana.

Sumasa juga menilai penataan Tukad Mati tidak ubahnya sebagai proyek pemindahan masalah yaitu menyikapi potensi banjir di daerah hulu tapi menimbulkan kerusakan lingkungan dan kerugian nelayan yang ada di daerah hilir. “Ini sebenarnya bisa saya laporkan sebagai perusakan lingkungan. Tapi saya tidak mau lakukan itu karena saya yakin ini bisa kita solusikan bersama,” tegasnya.

Selain pengangkatan sampah eceng gondok, pengaturan pintu air, pemasangan jaring, serta pembangunan trash rake, Kepala Lingkungan Tuban Griya Made Ariana pada pertemuan itu juga mengusulkan kelengkapan semacam sirine yang diharapkan sebagai penanda ketika bendung gerak dibuka dan membuang air sungai  ke Teluk Benoa. Dengan begitu,  nelayan bisa mengantisipasi jukung yang tertambat di sekitar kaki tol oleh hantaman air dari alur Tukad Mati.

Menanggapi hal itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satker Sungai Pantai I BWSBP Ketut Asmara Putra mengaku belum lama ini pihaknya dengan terpaksa membuka bendung gerak atas pertimbangan tingginya level air di alur Tukad Mati  akibat derasnya hujan. “Kalau itu dibiarkan tertutup,  kami khawatir akan terjadi banjir lagi,” ucapnya didampingi Pelaksana Teknis Sungai Pantai I BWSBP Nyoman Sugiartana.

Ia pun mohon maaf kepada nelayan karena sampah termasuk eceng gondok ikut terbuang ke area Teluk Benoa.  Ketut Asmara Putra berjanji tetap berupaya melakukan langkah-langkah. Salah satunya menerjunkan eskavator amfibi untuk  mengangkat sampah dan eceng gondok dari alur Tukad Mati.

Asmara Putra menjelaskan, pertumbuhan eceng gondok di Tukad Mati sangat cepat akibat tingginya kadar Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD). “Sebenarnya pembersihan eceng gondok ini tidak bisa kami lakukan sendiri. Seperti di Waduk Muara, kami bekerja sama dengan pemerintah kota melalui sebuah kelompok kali bersih.  Merekalah yang ikut membersihkan sampah di sana. Selain itu, ada pula yang namanya KPS (Kelompok Pecinta Sungai), yang kami ajak berkolaborasi menjaga kebersihan Tukad Badung,” bebernya membandingkan penanganan kebersihan alur sungai di Tukad Mati dengan Tukad Badung.

Dalam penanganan masalah tersebut, pihaknya juga menghadapi kendala soal dana karena hampir sebagian dana DIPA ditarik kembali untuk penanganan pandemi Covid-19. “Jadi, mau tidak mau kita berusaha semaksimal mungkin dari apa yang ada. Akan kita upayakan untuk pembersihan eceng gondok ini,” tegasnya.

Ia juga berharap pihak terkait dari hulu hingga hilir ikut menyikapi permasalahan yang terjadi.  Salah satunya berkaitan dengan penjagaan kualitas air, sehingga aceng gondok tidak terlalu cepat tumbuh dan berkembang di alur Tukad Mati. (adi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here