Lima Pelukis di Ubud Jadikan Covid-19 Spirit Jengah untuk Bangkit

0
60
Lukisan "bertema "The Spirit of Covid-19 hasil karya lima seniman asal Ubud, Gianyar.

GIANYAR – Lima perupa menggelar pameran bertajuk “The  Spirit of Covid-19” di Suarti Boutique Village, Ubud, Gianyar. Melalui karya di atas kanvas dan kertas, mereka mengajak masyarakat untuk bangkit dan tidak lagi terlena dalam zona nyaman pariwisata.

Hampir sepekan, lima perupa itu memajang karya-karyanya tanpa pengunjung yang signifikan. Mereka adalah I Kadek Rudiantara alias Aboetd yang viral oleh aksi nyelenehnya dengan dandanan celuluk, Agus Eri Putra, Nanang Ar, Ketut Weces dan  Dewa Merta Nusa.

Seniman yang menekuni bidang kanvas dari aliran berbeda itu  memiliki satu tekad yakni menjadikan pandemi Covid-19 sebagai penyemangat.  “ Kami  tidak ingin Covid-19 ini mematikan semangat Bali  dan Bangsa ini. Karena itu, kami jadikan pandemi ini sebagai penyemangat untuk tetap hidup yang berdinamika. Virus corona bukan akhir dari segalanya tapi awal kebangkitan,” ungkap Rudiantara, Senin (5/10/2020).

Puluhan lukisan dengan tebaran kata-kata mutiara, kelima seniman mencoba menghilangkan kesedihan masyarakat.   Mereka mengajak masyarakat untuk kembali bekerja  dengan  konsep era baru karena Bali diyakini tetap bisa eksis sebagaimana spirit kehidupan Bali tempoe doeloe yang tidak terlalu mendewakan pariwisata. “Mari kita lupakan bule  dan gemerincik dolarnya.  Gugur hotel kita buat sawah lagi,  gugur restoran kita buat warung lagi. Mari kita menjadi pelayan, penikmat dan majikan di tanah Bali ini,” ujarnya dengan semangat.

Ketut Weces yang merupakan penekun aliran tradisional menimpali, pameran ini bertujuan untuk memberikan suasana baru di tengah pandemi Covid-19. Meski dihadapkan dengan permasalahan global, para seniman lukis tetap berusaha untuk tidak menyurutkan niat berkesenian dan bergaul di kancah seni rupa. “Selama pandemi ini, memang banyak yang  loyo. Bahkan,  banyak rekan seniman yang tidak bisa mengekspresikan diri. Kami mengharapkan upaya ini bisa menjadi contoh dan motivasi untuk sektor lain,” ucapnya.

Ia menambahkan,  semangat di balik konsep  “Spirit of Covid-19”  diyakini  relevan dihidupkan di masa kini untuk acuan memahami situasi kekinian yang sedang dialami Bali, Indonesia dan seluruh umat manusia di bumi. Bahwa alam memiliki hukum dan batas-batasnya dan manusia mesti melakukan tindakan konstruktif dan pro aktif, adaptif  menjalani peradaban baru. “Pameran ini adalah ruang ekspresif  untuk  membangkit semangat baru.  Semangat berkarya yang tidak melulu berorientasi dolar,” tandasnya. (jay)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here