Klaster Baru Bermunculan, Masyarakat Tidak Disiplin Terapkan Prokes

0
55

dr. Ketut Suarjaya

DENPASAR – Perkembangan Pandemi Covid-19 di Provinsi Bali, terus mengalami peningkatan kasus dari hari kehari. Hingga Rabu (9/9) pertambahan kasus terkonfirmasi sebanyak 174 orang terdiri dari 171 WNI dan 3 WNA melalui Transmisi Lokal, kasus sembuh sebanyak 97 orang, dan 14 pasien terkonfirmasi meninggal Dunia. Secara KUMULATIF, kasus Terkonfirmasi Positif menjadi 6.723 orang, Sembuh 5.322 orang (79,16%), dan pasien Meninggal Dunia menjadi 142 orang (2,11%). Sedangkan Kasus Aktif menjadi 1.259 orang (18,73%), yang tersebar dalam perawatan di 17 RS rujukan, dan dikarantina di Bapelkesmas, UPT Nyitdah, Wisma Bima dan BPK Pering. Kasus WNI Terkonfirmasi melalui Transmisi Lokal terus meningkat tajam, per hari ini sebanyak 6.318 kasus (93,98%).

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr. Ketut Suarjaya belakangan ini bermunculan klaster-klaster baru dimasyarakat. Hal ini semua akibat masyarakat yang tidak desplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Terlebih lagi ada informasi di masyarakat sudah mulai ada sabungan ayam atau tajen. “Kalau imunnya kuat, tidak masalah karena mereka tidak menerapkan protokol kesehatan dampaknya keluarga dirumah. Mereka pulang kerumah membawa virus dan yang kena anggota keluarganya terlebih lagi ada keluarga yang menderita penyakit bawaan (komorbid). Penularan ini sangat cepat dan hampir 97 persen berakibat patal bagi pasien yang ada menderita penyakit bawaan, “ujar dr. Suarjaya saat dikomfirmasi via telepon, Rabu (09/9/2020).

Suarjaya mengatakan kasus Covid -19 di Bali memang mengalami peningkatan akan tetapi pasien sembuh juga cukup tinggi. Untuk menghentikan munculnya kasus-kasus baru, salah satunya masyarakat harus disiplin dalam menerepkan protokol kesehatan. Menurutnya selama ini masih banyak masyarakat yang lalai, tidak taat dengan prokes dan selalu menganggap remeh keberadaan virus ini. Terlebih lagi, kegiatan aktivitas masyarakat terus diperluas, banyak keramaian, banyak kegiatan upacara akan tetapi tidak memperhatikan prokes. Masyarakatnya tidak memakai masker, tidak menjaga jarak, tidak rajin mencuci tangan dan tidak menyiapkan hand sanitizer. “Kalau kita tidak mau disiplin bagaimana Bali akan bisa bangkit, apalagi kita ekonomi Bali bertumpu pada pariwisata. Kalau Bali masih banyak kasus penularan, orang tidak akan mau datang ke Bali dan Bali tidak akan bisa bangkit,” Imbuhnya.

Sementara upaya yang dilakukan pemerintah sudah sangat luar biasa, sayangnya, masyarakatnya tidak desiplin. Kadiskes Provinsi Bali Suarjayajuga mengakui, para tenaga kesehatan di rumah sakit sudah sangat lelah menangani pasien dan kerja keras yang dilakukan penuh dengan resiko. Apalagi tingkat hunian rumah sakit juga terus meningkat, pasien banyak dan resiko penularan juga sangat tinggi apalagi terhadap pasien yang sudah usia.

Pihaknya berharap, masyarakat Bali harus patuh dan taat, penuh disiplin menerapkan protokol kesehatan. Gubernur Bali telah mengeluarkan Peraturan Gubenrur No. 46 Tahun 2020, Tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan Sebagai Upaya Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Desease 19 Dalam Tatanan Kehidupan Era Baru, yang mengatur tentang Sanksi Administratif bagi pelanggar Protokol Kesehatan. Besaran denda yang diterapkan adalah Rp. 100.000,- bagi perorangan, dan Rp. 1.000.000,- bagi pelaku usaha dan tempat fasilitas umum lainnya.

Upaya pengendalian dan pencegahan ini tentunya bukan hanya tugas Pemerintah semata, namun juga menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat, karena dampaknya sangat terasa terutama di bidang perekonomian rakyat. ” Masyarakat harus disiplin, jangan karena sanksi masyarakat baru taat dan patuh. Ketika ada petugas yang melakukan penertiban masyarakatnya baru taat memakai masker. Ada ataupun tidak penertiban oleh petugas, masyarakat harus tetap disiplin dengan prokes, kemanapun saat keluar rumah harus memakai masker dan tetap menjaga jarak, “pungkasnya. (arn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here